Pages

Sunday

ASAL USUL TAREKAT NAQSYABANDIYAH MUDZHARIYAH INDONESIA


Nama lengkap tarekat ini adalah Naqsyabandiyah Mujaddidiyah Ma’shumiyah Ahmadiyah Mazhariyyah. Di Indonesia disingkat namanya menjadi Tarekat Naqsyabandiyah Al Muzhariyah. Tarekat Naqsyabandi cabang Muzhariyah ini berasal dari India. Masuk ke kawasan Indonesia sudah 150 tahun yang lampau tidak langsung dari India tapi melalui kota suci Mekkah. Gerakan tarekat sufi ini sampai sekarang masih subur berkembang di Indonesia.

Dalam sejarah perkembangan dan penyebaran agama Islam di India Tarekat Naqsyabandiyah adalah yang di depan sebagai motivator dan penggeraknya. Salah satu tokoh Naqsyabandi yang paling masyhur dan berjasa atas penyebaran agama Islam dan tarekat adalah Imam Rabbani Al Mujaddid Al Fits-tsani Syaikh Ahmad Faruq Al Syahrondi ( Imam Sirhindi ).

Setelah Syaikh Ahmad Faruq wafat kepemimpinan di khanaqah pusat Kota Delhi dilanjutkan oleh putranya yang bernama Syaikh Muhammad Ma’shum Al Ahmadi, kemudian dilanjutkan oleh putra Muhammad Ma’shum yaitu Syaikh Muhammad Syaifiddin Al Ahmadi. Khanaqah yang satu ini tetap pada posisinya sebagai yang paling menonjol dan berwibawa di India. Mereka menyebut diri sebagai keluarga Al Faruqi atau Al Ahmadi. Hampir seluruh keluarga ini menjadi syaikh Naqsyabandi dan ulama’ yang sangat terkemuka di belahan India. Keluarga mereka rata-rata ahli hadist dan tafsir serta mempunyai reputasi pendidikan agama yang sangat luar biasa.

Di belakang hari kedudukan syaikh Naqsyabandi di Kota Delhi tidak selamanya ditangan keluarga. Tokoh dan pengganti yang paling menonjol dan mempunyai bakat kesufian Naqsyabandi serta menguasai berbagai cabang ilmu ke agamaan adalah syaikh Habibillah Al Marazjan. Di India beliau terkenal dengan nama Mirza Mazhar Jan-i janan atau Mudzhar khan atau Syamsuddin Habiballah. Beliau dengan tekun dan penuh semangat melanjutkan perjuangan pendahulunya yaitu Syaikh Ahmad Faruq Al Syahrandi untuk menegakkan syariat Islam di India dan meluruskan serta menolak paham wahdatul wujud.

Setelah Syaikh Habibillah Al Marazjan wafat puncak kepemimpinan Naqsyabandi di Kota Delhi diganti oleh Khalifah kepala dari syaikh Habibillah yaitu Syaikh Abdallah Al Dahlawi. Di India beliau dikenal dengan nama sufinya yaitu Syah Ghulam Ali Yahya. Karena kealiman dan bakat kesufianya yang luar biasa sehingga khanaqah nya berhasil menarik pelajar dari seluruh India, Afganistan, Bukhara ( Rusia ), Samarqandi, Tasykent, dan Kurdistan.

Syaikh Abdallah ad Dahlawi mengangkat puluhan khalifah dari luar negeri. Salah satu khalifah nya adalah seorang keturunan darah dari Imam Rabbani al Mujaddid al Fits-tsani yang bernama syaikh Abu Sa’id al Ahmadi. Syaikh Abu sa’id juga mempunyai banyak murid dari berbagai belahan dunia ini. Syaikh Abu Sa’id wafat di Tonk pada tahun 1835.

Setelah syaikh Abu Sa’id wafat beliau digantikan oleh putranya yang bernama Ahmad Sa’id al Ahmadi. Syaikh Ahmad Sa’id menetap di kota Madinah. Beliau mengajar tarekat Naqsyabandiyah dan berbagai cabang ilmu keagamaan, dan mendapat sambutan yang luar biasa dari berbagai pelajar yang datang dari berbagai belahan dunia. Seperti ayah nya, syaikh Ahmad Sa’id juga mengangkat puluhan khalifah dari Turki, Damaskus, Pakistan, Afganistan, dan Daghistan.

Setelah syaikh Ahmad Sa’id wafat pada tahun 1861, kepemimpinan syaikh tarekat di Madinah digantikan oleh putranya yang bernama Syaikh Maulana Muhammad Mudzhar al Ahmadi.

Nah, dari syaikh Maulana Muhammad Mudzhar al Ahmadi inilah dibelakang hari muncul nama tarekat NAQSYABANDIYAH MUDZHARIYAH di Indonesia, khususnya di Madura Jawa Timur.

Syaikh Muhammad Mudzhar al Ahmadi sangat berpengaruh seperti pendahulunya. Beliau sangat terpelajar dalam ilmu tasawwuf dan agama, dikagumi para pelajar dari luar kota Madinah seperti dari Daghistan, India, Afrika, Yaman, Damaskus, Kurdistan, Afghanistan, serta Mesir, dan mengangkat sejumlah khalifah dari negara-negara tersebut.

Syaikh-syaikh tarekat Naqsyabandi sekarang yang memperoleh jalur isnad atau garis silsilah dari syaikh Muhammad Mudzhar al Ahmadi ini menisbatkan tarekat Naqsyabandiyah nya menjadi tarekat NAQSYABANDIYAH AL MUDZHARIYAH.

Jadi, munculnya cabang muzhariyah, khalidiyah, Sulaimanliyah, haqqani, dan sebagainya adalah karena memang dinisbatkan kepada syaikh-syaikh yang berpengaruh dalam silsilah tarekat itu. Salah satu contoh adalah Naqsyabandiyah Khalidiyah. Pengikut tarekat Naqsyabandi cabang khalidiyah ini dinisbatkan kepada syaikh Maulana Khalid Kurdi (wafat pada tahun 1826 di Damaskus). Maulana Khalid adalah khalifah dari Abdallah ad Dahlawi untuk daerah Kurdistan. Syaikh-syaikh Naqsyabandi sekarang yang memperoleh jalur isnad atau garis silsilah dari Syaikh Maulana Khalid menamakan dirinya pengikut tarekat NAQSYABANDIYAH KHALIDIYAH.

       Syaikh Muhammad Mudzhar al Ahmadi wafat pada tahun 1884. Khalifah nya yang paling berpengaruh di Mekkah adalah Syaikh Abdul Hamid as Syirwani dan Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi. Syaikh Muhammad Shaleh adalah seorang ulama Afrika Utara yang sangat masyhur dari keluarga az Zawawi.

Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi al Makki adalah ulama’ dan guru tarekat Naqsyabandi yang sangat saleh. Seorang pengamat dari Belanda yang banyak menulis tentang Islam dan tarekat, Snouck Hurgronje, menaruh rasa hormat dan memberi kesaksian bahwa Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi adalah seseorang yang dapat diajak bicara, Ulama’ yang shaleh dan seorang sufi yang dengan mendalam telah menyelami rahasia-rahasia tarekat. Syaikh Muhammad Shaleh, kata Snouck Hurgronje, menolak orang-orang yang ingin masuk tarekat kalau belum memiliki pengetahuan keislaman yang mendalam (sebagian penulis Indonesia menuduh Snouck Hurgronje adalah seorang orientalis. Dia dituduh pura-pura masuk Islam dan mengganti namanya dengan nama Haji Abdul Gaffar). Terlepas dari pujian orang luar seperti Snouck Hurgronje, kenyataanya Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi adalah seorang wali Allah yang memang sangat disegani oleh ulama’-ulama’ lain yang ada di Mekkah pada waktu itu. Syaikh Muhammad Shaleh adalah khalifah dari syaikh Maulana Mudzhar al Ahmadi yang sukses menyebarkan tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah kepada para pelajar yang datang ke Mekkah.

Murid-murid Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi juga terdapat dari kalangan raja-raja. Contohnya adalah Raja Muhammad Yusuf. Dia adalah seorang pengganti tahta kesultanan Riau Indonesia pada tahun 1858, dia bergelar Yang Dipertuan Muda Kesepuluh. Di samping seorang raja, dia bertindak sebagai Syaikh Tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah di kepulauan Riau antara tahun 1859 hingga 1899. Contoh yang lain adalah raja-raja Pontianak, Kalimantan Barat, yang tergolong garis keturunan Rasulullah SAW dari Marga al Qadri. Mereka adalah murid-murid dari syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi. Para pelajar dan pegawai kesultanan Pontianak yang pergi menunaikan ibadah haji oleh Sultan semuanya dipercayakan untuk diurus oleh keluarga Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi. Hubungan anatara syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi al Makki dengan kesultanan Pontianak begitu erat. Pada tahun 1884 ketika putra Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi yang bernama Abdullah punya masalah politik dengan syarif Mekkah, beliau hijrah ke Pontianak Kalimantan Barat. Tujuh tahun kemudian atas persetujuan residen Belanda beliau diangkat menjadi mufti sunni di Kesultanan Pontianak. Bahkan di kemudian hari cucunya yang bernama Syaikh Yusuf Ali Abdallah az Zawawi pernah menjadi mufti sunni di Negara Bagian Trengganu Malaysia hingga akhir hayatnya tahun 1980.

Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi mengangkat berpuluh-puluh khalifah. Sejumlah khalifah yang sangat terkenal antara lain Syaikh Abdallah az Zawawi (Putranya sendiri), Syaikh Abdul Hamid dari negara Daghistan, Syaikh Muhammad Murad al Qazani dari negara Uzbekistan, Syaikh Abdul Adzim dari Madura Indonesia.

Syaikh Abdul Hamid ad Daghistan bersahabat karib dengan pensyarah hadist Muslim yaitu Syaikh Nawawi Banten. Di samping bersahabat dengan Syaikh Nawawi beliau juga bersahabat dengan Syaikh Muhammad Kholil Bangkalan Madura Indonesia.

Syaikh Muhammad Murad al Qazani juga menyebarkan tarekat dan mengangkat 3 khalifah untuk Pontianak antara lain: Sayyid Ja’far al Saqqaf, Sayyid Ja’far al Qadri, dan Syaikh Haji Abdul Aziz dari kampung Kamboja.

Semua khalifah-khalifah dari Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi yang dijelaskan di atas sekarang tampaknya telah putus dan hilang dari Indonesia. Justru Tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah bisa berjaya sampai saat ini karena berkat perjuangan dari khalifah Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi yang bernama Syaikh Abdul Adzim dari Bangkalan Madura Jawa Timur.

Syaikh Abdul Adzim adalah seorang Wali Allah yang sangat terpelajar. Beliau menguasai berbagai cabang ilmu agama. Sebagai mursyid Tarekat beliau telah sukses menyebarkan Tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah ke Republik Indonesia. Hampir semua keluarganya mengabdikan dirinya kepada Islam dan menjadi ulama serta waliyullah. Beliau masih sepupu dengan ulama legendaris seperti Syaikh KH Muhammad Kholil Bangkalan, dan Syaikh KH Zainal Abidin Kwanyar (Bujuk Cendana) Bangkalan.

Syaikh Abdul Adzim mempunyai beberapa khalifah yang sangat 'alim. Mereka diangkat Khalifah oleh Syaikh Abdul Adzim untuk menyebarkan Tarekat Naqsyabandiyah al Mudzhariyah di Nusantara ini. Lima di antara mereka adalah Syaikh Hasan Basuni Pakong Pamekasan, Syaikh Muhammad Shaleh al Maduri, Syaikh Zainal Abidin kwanyar Bangkalan (Bujuk Cendana), Syaikh Muhammad Jazuli Sampang, dan Syaikh Ahmad Syabrawi al Maduri.

Dari 5 khalifah Syaikh Abdul Adzim al Maduri tersebut Tarekat Naqsyabandiyah menjadi kokoh di Nusantara ini. Selama 100 tahun lebih Tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah mendominasi Jawa Timur dan Kepulauan Madura. Sebelum wafat para syaikh-syaikh tarekat mengangkat khalifah atau pengganti baru. Hingga sampai saat ini Tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah tetap ada dan berjaya di Republik Indonesia ini.

Pada era tahun 1975 hingga tahun 1996 guru mursyid Tarekat Naqsyabandiyah al Mudzhariyah yang paling berpengaruh dan paling banyak pengikutnya adalah Syaikh KH Lathifi Baidhowi dari Malang Selatan Jawa Timur. Sebelum beliau wafat pada tahun 1996, Kepemimpinan Mursyid oleh Syaikh KH Lathifi Baidhowi diberikan kepada putranya yang bernama Syaikh KH Zahid Lathifi dan putra KH Ali Wafa yang bernama KH Thaifur Ali Wafa. Kedua guru Mursyid ini sekarang aktif di Indonesia.

Garis silsilah atau rantai isnad Syaikh KH Lathifi Baidhowi adalah sebagai berikut ; Syaikh KH Lathifi Baidhowi memperoleh ijazah dari syaikh KH Ali Wafa Ambunten Sumenep, Syaikh Ali Wafa memperoleh ijazah dari Syaikh KH Ahmad Syirajuddin Sampang, syaikh Ahmad Syirajuddin Memperoleh Ijazah dari Syaikh KH Hasan Basuni Pakong Pamekasan, Syaikh Hasan Basuni memperoleh ijazah dari Syaikh Abdul Adzim Bangkalan, Syaikh Abdul Adzim memperoleh ijazah dari Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi al Makki, Syaikh Muhammad Shaleh az Zawawi memperoleh Ijazah dari Syaikh Maulana Muhammad Mudzhar al Ahmadi al Madani, Syaikh Maulana Muhammad Mudzhar al Ahmadi memperoleh ijazah dari syaikh Ahmad Sa’id al Ahmadi, dan seterusnya. Demikianlah rantai isnad atau jalur silsilah Tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah milik syaikh KH Lathifi Baidhowi Malang Indonesia.

            Selain ijazah dari jalur Madura tersebut Syaikh KH lathifi Baidhowi memperoleh ijazah dari jalur langsung Mekkah. Ijazah tarekat yang diberikan Syaikh Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki kepada Syaikh KH Lathifi Baidhowi adalah sama-sama Tarekat Naqsyabandiyah Mujaddidiyah Ahmadiyah. Untuk mengetahui asal-usul dari rantai isnad ini mari kita kembali kepada Syaikh Ahmad Sa’id al Ahmadi.

Seperti telah disebutkan, Syaikh Ahmad Sa’id al Ahmadi juga mengangkat khalifah-khalifah dari Negara Turki, Damaskus, Afganistan, Daghistan, Pakistan dan lain-lain. Salah satu khalifah dari Syaikh Ahmad Sa’id al Ahmadi dari Afganistan adalah Syaikh Dausat Muhammad al Qandahari.

Shaykh Haji Dost Muhammad al Qandhari tinggal di Negeri Afghanistan. Karena kesalehan dan kealimannya beliau banyak menarik pelajar dari seluruh Negeri Afghanistan.

Dost Muhammad al Qandhari lahir dan menerima pendidikan di kota Qandahar Negara Afganistan. Sewaktu masih muda beliau bertemu dengan guru besar Tarekat Naqsyabandiyah India yaitu Syaikh Abdullah ad Dahlawi di Masjid Nabawi Madinah. Pertemuan itu sangat mengesankan bagi Syaikh Dausat Muhammad al Qandahari. Syaikh Abdullah ad Dahlawi telah menuangkan faid (rahasia-rahasia tarekat) kepada dada Syaikh Dausat Muhammad al Qandahari. Dost Muhammad al Qandahari kemudian berguru kepada khalifah Syaikh Abdullah ad Dahlawi di India yaitu kepada Syaikh Abu Sa’id al Ahmadi dan kepada putra Syaikh sekaligus  khalifahnya yaitu Syaikh Ahmad Sa’id al Ahmadi

Dalam waktu empat belas bulan Haji Dost Muhammad al Qandhari tinggal bersama Syaikh Ahmad Sa’id di Madinah. Dan dalam masa itu Syaikh Ahmad Sa’id mengangkat Dost Muhammad al Qandari menjadi khalifah nya di Daerah Afghanistan.

Setelah mendapat ijazah dari gurunya itu beliau lalu tinggal di kota Qandahar. Namun pada tahun 1842 di daerah Afghanistan yang merupakan jajahan Inggris terjadi pertikaian politik. Pada tahun itu penguasa Afghanistan yang bernama Shah Shuja terbunuh sehingga berakibat fatal bagi ulama’-ulama’ di Afghanistan. Syaikh Haji Dausat muhammad al Qandahari terpaksa disuruh hijrah ke Daerah Pasto dan Punjab oleh gurunya yang bernama Syaikh Ahmad Sa’id al Ahmadi. Namun Dost Muhammad al Qandhari memilih dan menetap di desa Mussa Zai Sharif di dekat Dera Ismail Khan Negara Pakistan. Beliau mendirikan khanaqahnya dan menyebarkan tarekat di sana.

Pada waktu Syaikh Dausat Muhammad al Qandhari tinggal di Negeri Afganistan beliau banyak menarik pelajar dari seluruh negeri. Begitu pula aktifitasnya di negeri Pakistan. Haji Dost Muhammad al Qandhari wafat pada tanggal 17 Februari 1868 di makamkan di Desa Mussa Zai Sharif (Pakistan).

Sebelum wafat Syaikh Dausat Muhammad al Qandahari mengangkat khalifah yang juga sangat terpelajar dalam ilmu agama untuk menggantikannya yaitu Syaikh Muhammad Usman ad Damani.

Syaikh Muhammad Usman ad Damani lahir pada tahun 1244 H di Kota Loni di distrik Dera Ismail Khan Pakistan. Beliau adalah seorang khalifah Khwaja Dost Muhammad Qondhari dan merupakan penerus khanaqah Mussa Zai Sharif. Tidak hanya Tarekat Naqsyabandiyah Mujaddidiyah, Syaikh Dausat Muhammad al Qandahari juga memberikan ijazah tarekat Qadiriyah, Chistiyah, Suhrawardiyah, Sattariyah, Madariyah, Kubrawiyah, dan Qalandariyah, yang dimilikinya kepada Syaikh Muhammad Usman Damani. Di seluruh Negeri Pakistan Syaikh Muhammad Usman Damani sangat berpengaruh dan mempunyai banyak pengikut. Beliau banyak mengarang kitab yang diterbitkan dalam sebuah koleksi yang bernama Tuhfah Zahidiyah. Beliau juga mengangkat empat khalifah untuk menjadi pegantinya. Mereka antara lain: Syaikh Muhammad Sirajuddin an Naqsyabandi (putranya sendiri), Sayyad Laal Shah Hamdani (Wafat tahun 1896), Syaikh Maulana Syirazi, Syaikh Abdurrahman Bahadur Kilmi (wafat tahun 1222 H).

Syaikh Muhammad Usman ad Damani wafat pada hari Selasa tanggal 26 Januari 1897 dan dimakamkan di Mussa Zai Sharif di samping makam Syaikh Dausat Muhammad al Qandahari.

Pengganti utama dan khalifah di Khanaqah Mussai Zai Sharif adalah putranya yang bernama Syaikh Khwaja Muhammad Sirajuddin. Seperti ayahnya, Syaikh Muhammad Sirajuddin juga adalah seorang guru tarekat yang sangat 'alim. Beliau adalah seorang sarjana muslim dan guru sufi terkemuka dari Tarekat Naqsyabandiyah di Asia Selatan. Beliau banyak mengangkat khalifah dari berbagai Negara. Jumlah khalifahnya adalah 36 orang.

Pada waktu masih muda Syaikh Muhammad Sirajuddin berguru kepada Syaikh Mulla Shah Muhammad. Beliau Mendapat prestasi yang cukup menakjubkan, dalam usia 14 tahun Muhammad Sirajuddin Kecil telah menuntaskan berbagai ilmu dalam semua cabang keagamaan. Syaikh Muhammad Sirajuddin mengambil tarekat dari ayahnya, beliau juga  mempelajari maktubat Syaikh Imam Sirhindi dan karya Syaikh Muhammad Ma’sum al Ahmadi. Syaikh Muhammad Usman ad Damani (ayahnya) memberi ijazah Tarekat Naqsyabandiyah kepada Syaikh Muhammad Sirajuddin pada tanggal 10 Mei 1894.

Syaikh Muhammad Sirajuddin bin Muhammad Usman ad Damani wafat pada tanggal 12 Februari 1915 di makamkan di samping makam ayahnya. Dari 36 khalifah yang diangkatnya ada 8 khalifah yang cukup terkenal dan berpengaruh, mereka adalah:
1.     Syaikh Khwaja Ali Shah Pir Fasal Quraesy. Beliau paling menonjol dan terkenal sebagai pengganti Syaikh Muhammad Sirajuddin, disamping itu beliau menerima ijazah dari Sayyad Laal Shah Hamdani.
2.     Syaikh Maulana Hafidz Muhammad Ibrahim (putra Syaikh Muhammad Sirajuddin).
3.     Syaikh Abdul Ghafur al Abbasi al Madani. Beliau adalah khalifah Syaikh Muhammad Sirajuddin untuk Madinah.
4.     Syaikh Abu Sa’ad Ahmed Khan.
5.     Syaikh Husain Ali Maulana
6.     Syaikh Abdul Ahad.
7.     Syaikh Abu Muhammad Barkat Ali Shah
8.     Syaikh Maulana ghulam Hasan

Khalifah yang mempunyai hubungan dengan Indonesia sekarang adalah Syaikh Abdul Ghafur al Abbasi al Madani melalui khalifahnya yang bernama Syaikh Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas bin Abdul Aziz al Maliki al Hasani.

Pada tahun 1924 terjadi penaklukan terhadap kota suci Mekkah yang dilakukan oleh Abdul Aziz ibnu Sa’ud yang berpaham wahabi. Kaum wahabi telah melumpuhkan kegiatan seluruh tasawwuf dan seluruh organisasi tarekat di kota suci Mekkah dan Madinah. Kaum wahabi tidak segan-segan mengusir, membantai, atau memenjara para Syaikh-syaikh tarekat. Seluruh ulama’ Ahlussunnah Wal Jama’ah dibasmi dari kota Mekkah dan Madinah. Bahkan ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah telah dikafirkan oleh kaum wahabi. Kaum Sunni yang bertahan, harus sembunyi-sembunyi mengajar. Sejak tahun 1924 hingga saat ini Tikus-Tikus Wahabi telah mengusai Saudi Arabia.

Seluruh macam tarekat sufi telah lenyap dari kota Mekkah dan Madinah. Bahkan Tikus-Tikus Wahabi telah dikirim ke Malaysia, Indonesia, Mesir, Yaman, dan negara-negara Islam lain. Tujuannya adalah membasmi atau menghancurkan ajaran tasawwuf dan paham Ahlussunnah Wal Jama’ah. Tikus-Tikus Salafi Wahabi adalah pelanggar HAM (hak asasi manusia) paling kotor peringkat nomor 2 di dunia setelah Tikus-Tikus Syi’ah.

Syaikh Abdul Ghafur al Abbasi al Madani terpaksa berhati-hati dan dengan secara sembunyi-sembunyi mengajar tarekat di Madinah. Sebelum wafat, Syaikh Abdul Ghafur al Abbas memberi ijazah Tarekat Naqsyabandiyah Mujaddidiyah-nya kepada murid yang sangat dicintainya yaitu kepada seorang ulama’ dan Imam yang belum ada tandingannya di abad 20 ini. Beliau adalah Al Muhaddits Sayyid Muhammad bin Alwi al Maliki yang bermukim di Mekkah.

Pada era tahun 1980 hingga 2002 Syaikh Sayyid Muhammad bin Alwi al Maliki yang terkenal dengan nama Syaikh Maliki banyak mengadakan perjalanan ke seluruh dunia. Beliau banyak mengunjungi para waliyullah, ulama’-ulama’, syaikh-syaikh tarekat, dan tokoh agama Islam yang ada di seluruh dunia. Mulai dari Damaskus, Irak, Kurdi, Mesir, Yaman, India, China, Indonesia, Malaysia, hingga tidak bisa dihitung lagi beberapa negara yang beliau kunjungi. Hampir para waliyullah dan ulama’-ulama’ seluruh dunia yang hidup sezaman dengan beliau mengenal siapa Syaikh Sayyid Muhammad bin Alwi al Maliki.

Pada salah satu kunjungan ke Indonesia di tahun 1985 Sayyid Muhammad Alwi bertemu dengan Syaikh Naqsyabandi Indonesia KH Lathifi Baidhowi. Dari pertemuan dua Wali Allah inilah maka rahasia-rahasia ilmu serta barokah Tarekat Naqsyabandiyah yang berasal dari Syaikh Dausat Muhammad al Qandahari bisa sampai ke Ikhwan Akhawat Muzhariyah Indonesia. Sayyid Muhammad Alwi al Maliki terkesan dengan kealiman Syaikh KH Lathifi Baidhowi, begitu pula Syaikh KH Lathifi Baidhowi sangat terkesan dengan kealiman dan kesolehan Sayyid Muhammad Alwi bin Maliki. Sayyid Muhammad Alwi al Maliki memberi ijazah Tarekat Naqsyabandiyah-nya dan ijazah semua cabang ilmu keagamaan miliknya kepada Syaikh KH Lathifi Baidhowi. Kalau kita urut rantai Isnad atau jalur Silsilah dari Syaikh Sayyid Muhammad Alwi al Maliki adalah sebagai berikut: Syaikh KH Lathifi Baidhowi Malang memperoleh Ijazah dari Syaikh Sayyid Muhammad bin Alwi al Maliki al Hasani Mekkah, Syaikh Sayyid Muhammad bin Alwi al Maliki al Hasani Mekkah meperoleh Ijazah dari Syaikh Abdul Ghafur al Abbasi Madinah, Syaikh Abdul Ghafur al Abbasi  Madinah memperoleh Ijazah dari Syaikh Muhammad Sirajuddin Mussa Zai Sharif Pakistan, Syaikh Muhammad Sirajuddin Mussa Zai Sharif Pakistan memperoleh Ijazah dari Syaikh Muhammad Ustman addamani Mussa Zai Sharif Pakistan, Syaikh Muhammad Ustman addamani Mussa Zai Sharif Pakistan memperoleh Ijazah dari Syaikh Dausat Muhammad al Qondahari Afganistan, Syaikh Dausat Muhammad al Qondahari Afganistan memperoleh Ijazah dari Syaikh Ahmad Sa'id al Ahmadi Madinah, dari Syaikh Ahmad Sa'id al Ahmadi Madinah sampai kepada Rosulullah SAW Jalur Silsilah nya atau Rantai Isnad nya sama atau bertemu dengan Silsilah Tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah Madura.

Jadi Syaikh KH Lathifi Baidhowi Malang telah memperoleh ijazah dari dua jalur khalifah atau rantai isnad Syaikh Ahmad Sa’id al Ahmadi (Wafat 1860) yaitu Syaikh Maulana Muhammad Mudzhar al Ahmadi dan Syaikh Dausat Muhammad al Qandahari. Lebih jelasnya lihat di (website: http://www.scribd.com/doc/50522965/www-naqsyabandiyahmudzhariyah-blogspot-com)

Seluruh guru-guru tarekat yang kami ceritakan di atas adalah pengikut Tarekat Naqsyabandiyah Mujaddidiyah tulen. Hingga sekarang guru-guru maupun khalifah-khalifah mereka tetap mempertahankan pandangan puritanisme dan ortodoksi Ahlussunnah Wal Jama’ah yang telah dibina oleh Imam Rabbani Al Mujaddid Al Fits-tsani Syaikh Ahmad Faruqi as Sahrandi. Tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah adalah tarekat yang paling Syari’ah Minded dan tarekat yang paling Syari’ah Oriented dibanding tarekat-tarekat yang lain. Hampir 95% semua guru-guru Mursyid Naqsyabandiyah Mudzhariyah menguasai berbagai cabang ilmu keagamaan Islam. Di samping mereka menguasai ilmu keagamaan, semua guru-guru Tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah mempunyai ijazah Mursyid yang memang pasti.


Demikianlah asal-usul singkat tentang Tarekat Naqsyabandiyah al Mudzhariyah di Indonesia.

Penulis:
Muhammad Karim dan Hana Sahira Claudiana. 
14 Januari 2012

    


     






       
  









Saturday

Sejarah Syekh Bahauddin Naqsyabandiyah


Sejarah Syekh Bahauddin Naqsyabandi, RA


Sejarah Syekh Bahauddin Naqsyabandi

Syekh Muhammad Bahauddin An Naqsabandiy Ra. Adalah seorang Wali Qutub yang masyhur hidup pada tahun 717-791 H di desa Qoshrul ‘Arifan,Bukhara, Rusia. Beliau adalah pendiri Thoriqoh Naqsyabandiyah sebuahthoriqoh yang sangat terkenal dengan pengikut sampai jutaan jama’ah dantersebar sampai ke Indonesia hingga saat ini.

Nama lengkap beliau adalah Syaikh Bahauddin Muhammad bin Muhammad binMuhammad Asy Syarif Al Husaini Al Hasani Al Uwaisi Al Bukhari QS (Syech Naqsyabandy) Dilahirkan di Qashrul ‘Arifan, Bukhara, Uzbekistan tanggal15 Muharram tahun tahun 717 H atau tahun 1317 M. Syekh Naqsyabandi lahir dari lingkungan keluarga sosial yang baik dan kelahirannya disertai oleh kejadian yang aneh. Menurut satu riwayat, jauh sebelumtiba waktu kelahirannya sudah ada tanda- tanda aneh yaitu bau harumsemerbak di desa kelahirannya itu. Bau harum itu tercium ketika rombongan Syekh Muhammad Baba As Samasi q.s. (silsilah ke- 13), seorangwali besar dari Sammas (sekitar 4 km dari Bukharah), bersama pengikutnya melewati desa tersebut. Ketika itu As Samasi berkata, “Bauharum yang kita cium sekarang ini datang dari seorang laki- laki yangakan lahir di desa ini”. Sekitar tiga hari sebelum Naqsyabandi lahir,wali besar ini kembali menegaskan bahwa bau harum itu semakin semerbak.
Dari awal, ia memiliki kaitan erat dengan Khwajagan, yaitu para guru dalam mata rantai Tariqat Naqsyabandi. Sejak masih bayi, ia di adopsi sebagai anak spiritual oleh salah seorang dari mereka, yaitu BabaMuhammad Sammasi. Sammasi merupakan pemandu pertamanya dalam jalur ini,dan yang lebih penting lagi adalah hubungannya dengan penerus (khalifah) Sammasi, yaitu Amir Kulal, yang merupakan rantai terakhir dalam silsilah sebelum Baha-ud-Din. Baha-ud-Din mendapat latihan dasardalam jalur ini dari Amir Kulal, yang juga merupakan sahabat dekatnyaselama bertahun-tahun.
Pada suatu saat, Baha-ud-Din mendapat instruksi secara "ruhani" oleh Abdul Khaliq Gajadwani (yang telah meninggal secara jasmani) untuk melakukan dzikir secara hening (tanpa suara). Meskipun Amir Kulaladalah keturunan spiritual dari Abdul Khaliq, Amir Kulal mempraktekkan dzikir yang dilakukan dengan bersuara. Setelah mendapat petunjukmengenai dzikir diam tersebut, Baha-ud-Din lantas absen dari kelompok ketika mereka mengadakan dzikir bersuara.

Setelah Naqsyabandi lahir, dia segera dibawa oleh ayahnya kepada Syekh Muhammad Baba As Samasi yang menerimanya dengan gembira. As Samasiberkata, “Ini adalah anakku, dan menjadi saksilah kamu bahwa aku menerimanya”. Naqsyabandi rajin menuntut ilmu dan dengan senang hati menekuni tasawuf. Dia belajar tasawuf kepada Muhammad Baba as Samasi ketika beliau berusia 18 tahun. Untuk itu beliau bermukim di Sammas dan belajar di situ sampai gurunya (Syekh As Samasi) wafat. Sebelum SyekhAs Samasi wafat, beliau mengangkat Naqsyabandi sebagai khalifahnya.Setelah gurunya wafat, dia pergi ke Samarkand, kemudian pulang ke Bukhara, setelah itu pulang ke desa tempat kelahirannya. Setelahbelajar dengan Syekh Baba As Samasi (silsilah ke 13), Naqsyabandi belajar ilmu tarikat kepada seorang wali quthub di Nasyaf, yaitu Syekh As Sayyid Amir Kulal q.s. (silsilah ke- 14).
Syekh Naqsyabandi pernah bertemu secara rohani dengan Syekh Abdul Khaliq Fadjuani dan di ajarkan zikir khafi serta suluk, Sejak masa Syaikh Arif Ar Riwikari sampai Syekh Amir Kulal zikir/tawajuh bersama dilakukan secara zahar akan tetapi kalau zikir sendiri secara khafi,Syekh Naqsyabandi tidak pernah ikut bertawajuh dengan Syekh Amir Kullal yang zikir bersama secara zahar, hal ini menimbulkan prasangka buruk pada murid murid gurunya yang tidak mengerti duduk persoalan. Akan tetapi Syekh Amir Kullal justru bertambah sayang dan cinta kepada Syekh Naqsyabandi. Suatu hari Syekh Bahauddin di panggil oleh Gurunya danberkata, “ Duuh putraku Bahauddin, kebetulan sekali pada waktu inisaudara saudara kita terutama para Khalifahku sedang berkumpul, akuakan berkata kepadamu, supaya disaksikan oleh para hadirin: Bahauddin!Supaya engkau tahu, bersamaan hidmahmu disini, Alhamdulillah aku telah melaksanakan wasiat guruku alhmarhum Syekh Muhammad Baba (lalu Syekh Amir Kullal memberi isyarat pada susunya), dan berkata kepadanya:Engkau telah meneteki susu pendidikanku ini sampai kering, tetapiwadahmu terlalu besar dan persiapanmu sangat kuat, maka itu aku telah mengizinkan kepadamu supaya meninggalkan tempat ini untuk mencari beberapa guru supaya kamu menambah beberapa faedah yang perlu darimereka dan faidan nur (Keluberan Nur Ilahi) yang selaras dengan citacitamu yang agung itu. Aku hanya bisa memberi ancar ancar carilah guru dari tanah Tajik dan dari tanah Turki”.
Setelah meminta izin dari Syekh Amir Kulal selanjutnya Syekh Naqsyabandi berguru kepada Syekh ‘Arifuddin Karoni selama tujuh tahun,kemudian berguru kepada Maulana Qatsam selama dua tahun terkahir kepada Syekh Darwisy Khalil dari Turki selama dua belas tahun. Syekh Naqsyabandi telah melaksanakan titah gurunya (Syekh Amir Khulal) demikian juga fatwa-fatwa dari Syekh Abdul Khaliq Fadjuani untuk memperdalam ilmu-ilmu syariat secara mendalam sehingga sempurnalah ilmuyang Beliau peroleh. Syekh Bahauddin pernah menyanjung ilmu tarekatnya dengan ucapan “Permulaan pelajaran Tarikatku akhir dari pelajaran semua tarekat”. Pisahnya Baha-ud-Din dari kelompok Amir Kulal ini mungkin bisa dianggap sebagai penanda terwujudnya tariqat Naqsyabandi, yangajarannya didapat dari Abdul Khaliq, yang ujungnya berasal dariKhalifah Abu Bakar diperoleh dari Nabi Muhammad.
Al Qutub, Auliya Allah, Penasehat Utama Sultan Khalil di Samarqan,fatwa-fatwanya menjadi rujukan Hakim-Hakim Agung dalam memutuskanperkara. Karena kebesaran namanya, Tarekat yang di pimpinnya tersebardengan cepat dan termashur serta memiliki pengikut yang sangat banyakdan tersebar ke seluruh dunia.
Beliau meletakkan dasar-dasar zikir qalbi yang sirri, zikir batin qalbiyang tidak berbunyi dan tidak bergerak, dan beliau meletakkan kemurnianibadat semata-mata lillahi ta’ala, tergambar dalam do’a beliau yang diajarkan kepada murid-muridnya “Ilahi anta makshuudi waridlaakamathluubi”. secara murni meneruskan ibadat Tratiwatus Sirriyah zaman Rasulullah, Thariqatul Ubudiyyah zaman Abu Bakar Siddiq dan Thariqatus Siddiqiyah zaman Salman al-Farisi. Beliau amat masyhur dengankeramat-keramatnya dan makmur dengan kekayaannya, lagi terkenal sebagai wali akbar dan wali quthub yang afdal, yang amat tinggi hakikat dan marifatnya. Dari murid-muridnya dahulu sampai dengan sekarang, banyak melahirkan wali-wali besar di Timur maupun di Barat, sehingga ajarannya meluas ke seluruh pelosok dunia. Beliau pulalah yang mengatur pelaksanaan iktikaf atau suluk dari 40 (empat puluh) hari menjadi 10(sepuluh) hari, yang dilaksanakan secara efisien dan efektif, dengan disiplin dan ada suluk yang teguh. Syekh Naqsyabandi wafat pada malam Senin Tanggal 3 Rabi’ul Awal tahun 791 H dalam usia 74 tahun.
Syekh Naqsyabandi meninggalkan banyak penerus, yang paling terhormat diantara mereka adalah Syekh Muhammad bin Muhammad Alauddin al-Khwarazmial-Bukhari al-Attar q.s dan Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Mahmoudal-Hafizi q.s, yang dikenal sebagai Muhammad Parsa, penulis Risalah Qudsiyyah. Kepada yang pertamalah Syekh Naqsyabdi meneruskan Ilmunya dan menjadi Ahli Silsilah ke-16

Syekh Muhammmad Baba as Samasiy adalah guru pertama kali dari Syekh Muhammad Bahauddin Ra. yang telah mengetahui sebelumnya tentang akan lahirnya seseorang yang akan menjadi orang besar, yang mulia dan agung baik disisi Allah Swt. maupun dihadapan sesama manusia di desa Qoshrul Arifan yang tidak lain adalah Syekh Bahauddin.

Di dalam asuhan, didikan dan gemblengan dari Syekh Muhammad Baba inilah Syekh Muhammad Bahauddin mencapai keberhasilan di dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt. sampai Syekh Muhammad Baba menganugerahinya sebuah “kopiah wasiat al Azizan” yang membuat cita-citanya untuk lebihdekat dan wusul kepada Allah Swt. semakin meningkat dan bertambah kuat.Hingga pada suatu saat, Syekh Muhammad Bahauddin Ra. Melaksanakan sholat lail di Masjid. Dalam salah satu sujudnya hati beliau bergetar dengan getaran yang sangat menyejukkan sampai terasa hadir dihadapan Allah (tadhoru’). Saat itu beliau berdo’a, “Ya Allah berilah aku kekuatan untuk menerima bala’ dan cobaanya mahabbbah (cinta kepadaAllah)”.

Setelah subuh, Syekh Muhammad Baba yang memang seorang waliyullah yangkasyaf (mengetahui yang ghoib dan yang akan terjadi) berkata kepadaSyekh Bahauddin, “Sebaiknya kamu dalam berdo’a begini, “Ya Allahberilah aku apa saja yang Engkau ridloi”. Karena Allah tidak ridlo jikahamba-Nya terkena bala’ dan kalau memberi cobaan, maka juga memberikekuatan dan memberikan kepahaman terhadap hikmahnya”. Sejak saat ituSyekh Bahauddin seringkali berdo’a sesuai dengan apa yang diperintahkanoleh Syekh Muhammad baba.

Untuk lebih berhasil dalam pendekatan diri kepada Sang Kholiq, Syekh Bahauddin sering kali berkholwat menyepikan hatinya dari keramaian dan kesibukan dunia. Ketika beliau berkholwat dengan beberapa sahabatnya,waktu itu ada keinginan yang cukup kuat dalam diri Syekh Bahauddin untuk bercakap-cakap. Saat itulah secara tiba-tiba ada suara yang tertuju pada beliau, “He, sekarang kamu sudah waktunya untuk berpaling dari sesuatu selain Aku (Allah)”. Setelah mendengar suara tersebut,hati Syekh Bahauddin langsung bergetar dengan kencangnya, tubuhnyamenggigil, perasaannya tidak menentu hingga beliau berjalan kesana kemari seperti orang bingung. Setelah merasa cukup tenang, Syekh Bahauddin menyiram tubuhnya lalu wudlu dan mengerjakan sholat sunah duarokaat. Dalam sholat inilah beliau merasakan kekhusukan yang luarbiasa, seolah-olah beliau berkomunikasi langsung dengan Allah Swt.

Saat Syekh Bahauddin mengalami jadzab1 yang pertama kali beliau mendengar suara, “Mengapa kamu menjalankan thoriq yang seperti itu ?“Biar tercapai tujuanku’, jawab Syekh Muhammad Bahauddin. Terdengarlagi suara, “Jika demikian maka semua perintah-Ku harus dijalankan.Syekh Muhammad Bahauddin berkata “Ya Allah, aku akan melaksanakan semampuku dan ternyata sampai 15 hari lamanya beliau masih merasakeberatan. Terus terdengar lagi suara, “Ya sudah, sekarang apa yang ingin kamu tuju ? Syekh Bahauddin menjawab, “Aku ingin thoriqoh yang setiap orang bisa menjalankan dan bisa mudah wushul ilallah”.

Hingga pada suatu malam saat berziarah di makam Syekh Muhammad Wasi’,beliau melihat lampunya kurang terang padahal minyaknya masih banyak dan sumbunya juga masih panjang. Tak lama kemudian ada isyarat untuk pindah berziarah ke makam Syekh Ahmad al Ahfar Buli, tetapi disini lampunya juga seperti tadi. Terus Syekh Bahauddin diajak oleh dua orang ke makam Syekh Muzdakhin, disini lampunya juga sama seperti tadi,sampai tak terasa hati Syekh Bahauddin berkata, “Isyarat apakah ini ?”

Kemudian Syekh Bahauddin, duduk menghadap kiblat sambil bertawajuh dantanpa sadar beliau melihat pagar tembok terkuak secara perlahan-lahan,mulailah terlihat sebuah kursi yang cukup tinggi sedang diduduki oleh seseorang yang sangat berwibawa dimana wajahnya terpancar nur yangn berkilau. Disamping kanan dan kirinya terdapat beberapa jamaah termasuk guru beliau yang telah wafat, Syekh Muhammad Baba.

Salah satu dari mereka berkata, “Orang mulia ini adalah Syekh Muhammad Abdul Kholiq al Ghojdawaniy dan yang lain adalah kholifahnya. Lalu ada yang menunjuk, ini Syekh Ahmad Shodiq, Syekh Auliya’ Kabir, ini Syekh Mahmud al Anjir dan ini Syekh Muhammad Baba yang ketika kamu hidup telah menjadi gurumu. Kemudian Syekh Muhammad Abdul Kholiq alGhojdawaniy memberikan penjelasan mengenai hal-hal yang dialami Syekh Muhammad Bahauddin, “Sesunguhnya lampu yang kamu lihat tadi merupakan perlambang bahwa keadaanmu itu sebetulnya terlihat kuat untuk menerima thoriqoh ini, akan tetapi masih membutuhkan dan harus menambah kesungguhan sehingga betul-betul siap. Untuk itu kamu harus betul-betulmenjalankan 3 perkara :

1. Istiqomah mengukuhkan syariat.

2. Beramar Ma’ruf Nahi mungkar.

3. Menetapi azimah (kesungguhan) dengan arti menjalankan agama dengan mantap tanpa memilih yang ringan-ringan apalagi yang bid’ah dan berpedoman pada perilaku Rasulullah Saw. dan para sahabat Ra.

Kemudian untuk membuktikan kebenaran pertemuan kasyaf ini, besok pagi berangkatlah kamu untuk sowan ke Syekh Maulana Syamsudin al An-Yakutiy,di sana nanti haturkanlah kejadian pertemuan ini. Kemudian besoknya lagi, berangkatlah lagi ke Sayyid Amir Kilal di desa Nasaf dan bawalah kopiah wasiat al Azizan dan letakkanlah dihadapan beliau dan kamu tidak perlu berkata apa-apa, nanti beliau sudah tahu sendiri”.

Syekh Bahauddin setelah bertemu dengan Sayyid Amir Kilal segera meletakkan “kopiah wasiat al Azizan” pemberian dari gurunya. Saat melihat kopiah wasiat al Azizan, Sayyid Amir Kilal mengetahui bahwa orang yang ada didepannya adalah syekh Bahauddin yang telah diwasiatkan oleh Syekh Muhammad Baba sebelum wafat untuk meneruskan mendidiknya.

Syekh Bahauddiin di didik pertama kali oleh Sayyid Amir Kilal dengan kholwat selama sepuluh hari, selanjutnya dzikir nafi itsbat dengan sirri. Setelah semua dijalankan dengan kesungguhan dan berhasil,kemudian beliau disuruh memantapkannnya lagi dengan tambahan pelajaran beberapa ilmu seperti, ilmu syariat, hadist-hadist dan akhlaqnya Rasulullah Saw. dan para sahabat. Setelah semua perintah dari SyekhAbdul Kholiq di dalam alam kasyaf itu benar–benar dijalankan dengan kesungguhan oleh Syekh Bahauddin mulai jelas itu adalah hal yang nyata dan semua sukses bahkan beliau mengalami kemajuan yang sangat pesat.

Jadi toriqoh An Naqsyabandiy itu jalur ke atas dari Syekh Muhammad Abdul Kholiq al Ghojdawaniy ke atasnya lagi dari Syekh Yusuf al Hamadaniy seorang Wali Qutub masyhur sebelum Syekh Abdul Qodir alJailaniy. Syekh Yusuf al Hamadaniy ini kalau berkata mati kepada seseorang maka mati seketika, berkata hidup ya langsung hidup kembali,lalu naiknya lagi melalui Syekh Abu Yazid al Busthomi naik sampaisahabat Abu Bakar Shiddiq Ra. Adapun dzikir sirri itu asalnya dari Syekh Muhammad Abdul Kholiq al ghojdawaniy yang mengaji tafsir dihadapan Syekh Sodruddin. Pada saat sampai ayat, “Berdo’alah kepadaTuhanmu dengan cara tadhorru’ dan menyamarkan diri”…

Lalu beliau berkata bagaimana haqiqatnya dzikir khofiy /dzikir sirridan kaifiyahnya itu ? jawab sang guru : o, itu ilmu laduni dan insyaAllah kamu akan diajari dzikir khofiy. Akhirnya yang memberi pelajaranlangsung adalah nabi Khidhir as.

Pada suatu hari Syekh Muhammad Bahauddin Ra. bersama salah seorang sahabat karib yang bernama Muhammad Zahid pergi ke Padang pasir dengan membawa cangkul. Kemudian ada hal yang mengharuskannya untuk membuang cangkul tersebut. Lalu berbicara tentang ma’rifat sampai datang dalam pembicaraan tentang ubudiyah “Lha kalau sekarang pembicaraan kita sampai begini kan berarti sudah sampai derajat yang kalau mengatakan kepada teman, matilah, maka akan mati seketika”. Lalu tanpa sengaja Syekh Muhammad Bahauddin berkata kepada Muhammad Zahid, “matilah kamu!,Seketika itu Muhammad Zahid mati dari pagi sampai waktu dhuhur.

Melihat hal tersebut Syekh Muhammad Bahauddin Ra. menjadi kebingungan,apalagi melihat mayat temannya yang telah berubah terkena panasnya matahari. Tiba-tiba ada ilham “He, Muhammad, berkatalah ahyi (hiduplahkamu). Kemudian Syekh Muhammad Bahauddin Ra. berkata ahyi sebanyak 3kali, saat itulah terlihat mayat Muhammad Zahid mulai bergerak sedikit demi sedikit hingga kembali seperti semula. Ini adalah pengalaman pertama kali Syekh Muhammad Bahauddin Ra. dan yang menunjukkan bahwabeliau adalah seorang Wali yang sangat mustajab do’anya.

Syekh Tajuddin salah satu santri Syekh Muhammad Bahauddin Ra berkata,“Ketika aku disuruh guruku, dari Qoshrul ‘Arifan menuju Bukhara yang jaraknya hanya satu pos aku jalankan dengan sangat cepat, karena aku berjalan sambil terbang di udara. Suatu ketika saat aku terbang ke Bukhara, dalam perjalanan terbang tersebut aku bertemu dengan guruku.Semenjak itu kekuatanku untuk terbang di cabut oleh Syekh Muhammad Bahauddin Ra, dan seketika itu aku tidak bisa terbang sampai saat ini”.

Berkata Afif ad Dikaroniy, “Pada suatu hari aku berziarah ke SyekhMuhammad Bahauddin Ra. Lalu ada orang yang menjelek-jelekkan beliau.Aku peringatkan, kamu jangan berkata jelek terhadap Syekh Muhammad Bahauddin Ra. dan jangan kurang tata kramanya kepada kekasih Allah. Dia tidak mau tunduk dengan peringatanku, lalu seketika itu ada seranggadatang dan menyengat dia terus menerus. Dia meratap kesakitan lalu bertaubat, kemudian sembuh dengan seketika.

SYECH MUHAMMAD BAHAU’UDDIN NAQSYABANDI DENGAN TAREKATNYA
Peletak dasar Thoriqoh Naqsyabandiyah ini adalah Al-Arif Billah AsySyaikh Muhammad bin Muhammad Bahauddin Syah Naqsyabandi Al-Uwaisi Al-Bukhori radliyallahu anhu (717-865 H) .

Dijelaskan oleh Syaikh Abdul Majid bin Muhammad Al Khaniy dalam bukunyaAl-Hada’iq Al-Wardiyyah , bahwa thoriqoh Naqsabandiyyah ini adalah thoriqohnya para sahabat yang mulia radlallahu anhum sesuai aslinya,tidak menambah dan tidak mengurangi. Ini merupakan untaian ungkapan dari langgengnya (terus menerus) ibadah lahir bathin dengan kesempurnaan mengikuti sunnah yang utama dan ‘azimah yang agung serta kesempurnaan dalam menjauhi bid’ah dan rukh shah dalam segala keadaan gerak dan diam, serta langgengnya rasa khudlur bersama Allah Subhanahuwa ta'ala, mengikuti Nabi Muhammad Shollallahu 'alaihi wa sallam dengansegala yang beliau sabdakan dan memperbanyak dzikir qalbi .

Dzikirnya para guru Naqsyabandiyah adalah qalbiyah (menggunakan Hati), dengan membaca lafadz “Alloh..Alloh” pada 7 tempat lathaif. Dengan itu mereka bertujuan hanya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala semata dengan tanpa riya’ , dan mereka tidak mengatakan suatu perkataan dan tidakmembaca suatu wirid kecuali dengan dalil atau sanad dari kitab Allah Subhanahu wa ta'ala atau sunnah Nabi Muhammad Shollallahu 'alaihi wasallam. Adapun 7 macam lathaif tersebut adalah :
Lathifah al-qalb ada di bawah dada kiri, dua jari di bawah payudara …warnanya adalah kuning, dan dia adalah tempat kekuasaan Nabi Adam as,dan asalnya adalah air, udara dan tanah.
Lathifah al-ruh bertempat di sisi bawah susu kanan, berjarak sekitardua jari, warnanya adalah merah, dan merupakan tempat kewenangan Nabi Ibrahhim dan Nuh, dan asalnya adalah api.
Lathifah al-sirr bertempat di atas susu kiri berjarak sekitar dua jari,warnanya adalah putih, tempat kekuasaan Nabi Musa dan asalnya adalahair.
Lathifah al-khafi bertempat di atas susu kanan, berjarak sekitar duajari, warnanya adalah hitam, tempat kekuasaan Nabi Isa, dan asalnyaadalah udara.
Lathifah al-akhfa bertempat di tengah dada, warnanya hijau, tempat kekuasaan Nabi Muhammad saw., asalnya adalah tanah.
Lathifatul al-Nafsi bertempat di anatara kedua mata kepala
Lathifatul Qolab (Jasad) bertempat di seluruh dan sekujur anggota badan, mulai rambut kepala sampai kaki

Dalam tarekat Naqsyabandi ini telah di ajarkan 11 asas dasar ajaran, yakni :
1). “Huwasy Dardam” , yaitu pemeliharaan keluar masuknya nafas, supaya hati tidak lupa kepada Allah SWT atau tetap hadirnya Allah SWT padawaktu masuk dan keluarnya nafas. Setiap murid atau salik menarikkan dan menghembuskan nafasnya, hendaklah selalu ingat atau hadir bersama Allahdi dalam hati sanubarinya. Ingat kepada Allah setiap keluar masuknya nafas, berarti memudahkan jalan untuk dekat kepada Allah SWT, dan sebaliknya lalai atau lupa mengingat Allah, berarti menghambat jalan menuju kepada- Nya.

2). “Nazhar Bar qadlam” yaitu setiap murid atau salik dalam iktikaf/suluk bila berjalan harus menundukkan kepala, melihat ke arahkaki dan apabila dia duduk dia melihat pada kedua tangannya. Dia tidakboleh memperluas pandangannya ke kiri atau ke kanan, karena dikhawatirkan dapat membuat hatinya bimbang atau terhambat untuk berzikir atau mengingat Allah SWT. Nazhar Barqadlam ini lebih ditekankan lagi bagi pengamal tarikat yang baru suluk, karena yangbersangkutan belum mampu memelihara hatinya.

3). “Safar Dar wathan” yaitu perpindahan dari sifat kemanusiaan yang kotor dan rendah, kepada sifat-sifat kemalaikatan yang bersih dan sucilagi utama. Karena itu wajiblah bagi si murid atau salik mengontrol hatinya, agar dalam hatinya tidak ada rasa cinta kepada makhluk.

4). “Khalwat Dar jaman” yaitu setiap murid atau salik harus selalu menghadirkan hati kepada Allah SWT dalam segala keadaan, baik waktusunyi maupun di tempat orang banyak. Dalam Tarikat Naqsyabandiyah adadua bentuk khalwat :

a. Berkhalwat lahir , yaitu orang yang melaksanakan suluk dengan mengasingkan diri di tempat yang sunyi dari masyarakat ramai.

b. Khalwat batin , yaitu hati sanubari si murid atau salik senantiasa musyahadah, menyaksikan rahasia- rahasia kebesaran Allah walaupun berada di tengah- tengah orang ramai.

5). “Ya Dakrad” yaitu selalu berkekalan zikir kepada Allah SWT, baikzikir ismus zat (menyebut Allah, Allah,.), zikir nafi isbat (menyebutla ilaha ilallah), sampai yang disebut dalam zikir itu hadir.

6). “Bar Kasyat” yaitu orang yang berzikir nafi isbat setelah melepaskan nafasnya, kembali munajat kepada Allah dengan mengucap kankalimat yang mullia

“Wahai Tuhan Allah, Engkaulah yang aku maksud (dalam perjalananrohaniku ini) dan keridlaan-Mulah yang aku tuntut” . Sehingga terasadalam kalbunya rahasia tauhid yang hakiki, dan semua makhluk ini lenyapdari pemandangannya.

7).“Nakah Dasyat” yaitu setiap murid atau salik harus memelihara hatinya dari kemasukan sesuatu yang dapat menggoda dan mengganggunya,walaupun hanya sebentar. Karena godaan yang mengganggu itu adalah masalah yang besar, yang tidak boleh terjadi dalam ajaran dasar tarikatini.

Syekh Abu Bakar Al Kattani berkata, “Saya menjaga pintu hatiku selama40 (empat puluh) tahun, aku tiada membukakannya selain kepada AllahSWT, sehingga menjadilah hatiku itu tidak mengenal seseorang pun selaindaripada Allah SWT.”

Sebagian ulama tasawuf berkata “Aku menjaga hatiku 10 (sepuluh) malam,maka dengan itu hatiku menjaga aku selama 20 (duapuluh) tahun.”

.“Bad Dasyat” yaitu tawajuh atau pemusatan perhatian sepenuhnya pada musyahadah, menyaksikan keindahan, kebesaran, dan kemuliaan Allah SWT terhadap Nur Zat Ahadiyah (Cahaya Yang Maha Esa) tanpa disertai dengankata- kata. Keadaan “Bad Dasyat” ini baru dapat dicapai oleh seorang murid atau salik, setelah dia mengalami fana dan baka yang sempurna.Adapun tiga ajaran dasar yang berasal dari Bahauddin Naqsyabandi adalah,

9).“Wuquf Zamani” yaitu kontrol yang dilakukan oleh seorang murid atausalik tentang ingat atau tidaknya ia kepada Allah SWT setiap dua atau tiga jam. Jika ternyata dia berada dalam keadaan ingat kepada Allah SWTpada waktu tersebut, ia harus bersyukur dan jika ternyata tidak, iaharus meminta ampun kepada Allah SWT dan kembali mengingat- Nya.

10).“Wuquf ‘Adadi” yaitu memelihara bilangan ganjil dalam menyelesaikan zikir nafi isbat, sehingga setiap zikir nafi isbat tidak diakhiri dengan bilangan genap. Bilangan ganjil itu, dapat saja 3 (tiga) atau 5(lima) sampai dengan 21 (duapuluh satu), dan seterusnya.

11).“Wuquf Qalbi” yaitu sebagaimana yang dikatakan oleh Syekh Ubaidullah Al- Ahrar, “Keadaan hati seorang murid atau salik yangselalu hadir bersama Allah SWT”. Pikiran yang ada terlebih dahulu dihilangkan dari segala perasaan, kemudian dikumpulkan segenap tenagadan panca indera untuk melakukan tawajuh dengan mata hati yang hakiki,untuk menyelami makrifat Tuhannya, sehingga tidak ada peluang sedikitpun dalam hati yang ditujukan kepada selain Allah SWT, danterlepas dari pengertian zikir.

Selain itu, dalam tarekat ini juga dikenalkan akan tehnik muroqobah, sebanyak 20 macam muroqobah

Demikian kisah keramatnya Syekh Muhammad Bahauddin Ra dan ajaran-ajarannya. Rodiyallah ‘anhu wa a’aada a‘lainaa min barokaatihiwa anwaarihi wa asroorihii wa ‘uluumihii wa akhlaaqihi allahuma amiin.

Sunday


SILSILAH (IJAZAH TAREKAT) NAQSYABANDIYAH DARI MEKKAH MILIK SYAIKHONA KH. LATHIFI BAIDHOWI,RA




SILSILAH (IJAZAH TAREKAT)

NAQSYABANDIYAH DARI MEKKAH
MILIK SYAIKHONA KH. LATHIFI BAIDHOWI, RA
DAN
MILIK KH. ZAHID LATHIFI


  • NABI MUHAMMAD SAW
  • ABU BAKAR AS SHIDDIQ RA
  • SALMAN AL FARISI RA
  • QOSIM BIN MUHAMMAD BIN ABU BAKAR AS SHIDDIQ RA
  • JA’FAR SHADIQ RA
  • ABI YAZID AL BUSTHAMI RA
  • ABI HASAN AL HARQANI RA
  • ABI QOSIM AL JURJANI, RA
  • ABI ALI AL FARMADZI, RA
  • YUSUF AL HAMDANI, RA
  • ABDUL KHALIQ AL GAJDAWANI, RA
  • MUHAMMAD ARIF ARRIYUKKARI,RA
  • MAHMUD AL INJIRI, RA
  • AZIZAN ALI AR RAMITANI, RA
  • BABA AS SAMASI, RA
  • AMIR KULAL, RA
  • MUHAMMAD BAHAUDDIN AL BUKHARI, RA
  • ALAIDDIEN AL ATTHORI, RA
  • YA’QUB AL JURKHI, RA
  • UBAIDILLAH AL AHRARI, RA
  • MUHAMMAD ZAHID, RA
  • MUHAMMAD DARWISY, RA
  • MUHAMMAD AL AMKINAKINI, RA
  • MUHAMMAD ABDUL BAQI, RA
  • AHMAD AL FARUQI AS SAHRANDI, RA
  • MUHAMMAD MA’SHUM, RA
  • MUHAMMAD SYAIFUDDIN, RA
  • MUHAMMAD MUHSIN AD DAHLAWI, RA
  • NUR MUHAMMAD AL BADAYUNI, RA
  • MUDZHAR KHAN, RA
  • ABDILLAH SYAHIN AD DAHLAWI, RA
  • ABI SA’ID AHMAD, RA
  • AHMAD SA’ID AL MADANI, RA
  • DAUSAT MUHAMMAD AL QANDAHARI, RA
  • MUHAMMAD UTSMAN AD DAMANI, RA
  • MUHAMMAD SIRAJUDDIN, RA
  • ABDUL GHAFUR AL ABBASI AN NAQSYABANDI AL MADANI, RA
  • SAYYID MUHAMMAD BIN ALWI BIN ABBAS BIN ABDUL AZIZ AL MALIKI AL HASANI
  • SYAKHANA LATIFHI BAIDHOWI, RA
  • KH. ZAHID LATHIFI
  • THOIFUR ALI WAFA

Syaikhana Lathifi Baidhowi menerima ijazah dari Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki pada malam jum’at tanggal 30 Jumadil Akhir 1405 H (1985) diterima di Malang.



Saturday

Tausiyah Almarhum KH. LATHIFI BAIDHOWI, ra. Versi bahasa Madura. Part-1


Tausiyah Almarhum KH. LATHIFI BAIDHOWI, ra. Versi bahasa Madura


SILSILAH (IJAZAH TAREKAT) NAQSYABANDIYAH DARI MADURA MILIK SYAIKHONA LATHIFI BAIDHOWI, RA



SILSILAH (IJAZAH TAREKAT) NAQSYABANDIYAH DARI MADURA
MILIK SYAIKHONA LATHIFI BAIDHOWI, RA
DAN
MILIK KH. ZAHID LATHIFI

  • NABI MUHAMMAD SAW
  • ABU BAKAR AS-SHIDDIQ,RA
  • SALMAN AL FARISI,RA
  • QOSIM AS-SIDDIQ,RA
  • JA’FAR SHODIQ,RA
  • ABI YAZID AL BUSTOMI,RA
  • ABI HASAN AL HARQANI,RA
  • ABI ALI AL FARMADZI,RA
  • ABI YA’QUB YUSUF AL HAMDANI RA
  • ABDIL KHALIQ AL GAJDAWANI,RA
  • ARIF AR RIYYUKARI,RA
  • MAHMUD AL INJIRI FAGHNAWI,RA
  • ALI AR RAMITANI,RA
  • BABA AS SAMASI,RA
  • AMIR KULAL AL BUKHARI,RA
  • BAHAUDDIN MUHAMMAD ANNAQSYABANDI,RA
  • ALAIDDIEN AL ATTHORI,RA
  • YA’QUBAL JARKHI,RA
  • UBAIDILLAH AL AHRARI,RA
  • MUHAMMAD AZ ZAHIDI,RA
  • DARWISY MUHAMMAD,RA
  • MUHAMMAD KHAUJAKI AL AMKANAKI,RA
  • MUHAMMAD AL BAQIBILLAH,RA
  • AHMAD FARUQ AS SAHRANDI,RA
  • MUHAMMAD MA’SUM AL AHMADI,RA
  • MUHAMMAD SYAIFIDDIN AL AHMADI,RA
  • NUR MUHAMMAD AL BADWANI,RA
  • HABIBILLAH AL MARAZJAN,RA
  • ABDILLAH AD-DAHLAWI,RA
  • ABI SA’ID AL AHMADI,RA
  • AHMAD SA’ID AL AHMADI,RA
  • MUHAMMAD MUDZHAR AL AHMADI,RA
  • ABDIL HAMID AS-SYARWANI,RA
  • MUHAMMAD SHALEH AZ-ZAWAWI AL MAKKI,RA
  • ABDIL ADZIM AL MADURI,RA
  • HASAN BASUNI AL MADURI,RA
  • MUHAMMAD SHALEH AL MADURI,RA
  • ZAINAL ABIDIN AL MADURI,RA
  • MUHAMMAD JAZULI,RA
  • AHMAD SYABRAWI AL MADURI,RA
  • AHMAD SIRAJUDDIN AL MADURI,RA
  • FATHUL BARI AL MADURI,RA
  • SYAMSUDDIN AL MADURI,RA
  • ALI WAFA,RA
  • HABIB MUHSIN ALI AL HINDUAN,RA
  • SYAIKHANA LATHIFI BAIDOWI,RA
  • ZAHID LATHIFI
  • THAIFUR ALI WAFA


SYAKHONA LATHIFI BAIDHOWI MENERIMA IJAZAH DARI SYAIKHONA ALI WAFA PADA TAHUN 1975 DI TERIMA DI AMBUNTEN, SUMENEP, MADURA.

Sunday

Tentang Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki

on Minggu, 18 April 2010

Sanad beliau ke IMam Hanafi :

Sanad guru-guru sayyid muhammad almaliky ke IMAM HANAFI dari- Syekh muhammad zakaria alkandahlawi (Syaikhul Hadits) dan syekh muhammad idris keduanya dari-kholil al sahhar nafuri dari-abdul ghoni bin abi saed al dahlawi al hanafi dari-muhammad abid alhanafi dari-yusuf bin muhammad al hanafi dari-ayahnya muhammad bin alauddin al mazjaji alhanafi dari-ayahnya alauddin bin muhammad dari-hasan bim ali al ujaimi alhanafi dari-khoiruddin al romly alhanafi dari-muhammad bin siraj al hanuti alhanafi dari-ahmad bin syabli alhanafi dari-ibrahim alkarky alhanafi dari-aminuddin yahya bin muhammad al aqsarani alhanafi dari-muhammad bin muhammad albukhori alhanafi dari-hafidzuddin muhammad bin muhammad bin ali al thohiri alhanafi dari-shodrussyariah ubaidillah bin mas ud alhanafi dari-dari mbahnya tajussyariah mahmud alhanafi dari-ayahnya shodrussyariah ahmad ibnulhanafi dari-abi jamaluddin ubaidillah bin ibrahim almahbubi alhanafi dari-muhammad bin abi bakar al bukhori dari-abil fadhoil syamsyul aimmah abi bakar muhammad alzaranjari alhanafi dari-syamsyul aimmah abdul aziz ahmad al hilwani alhanafi dari-abi ali al khodir bin ali al nasafi alhanafi dari-abi bakar muhammad bin fadhl al bukhori alhanafi dari-alustadz abdullah bim muhammad alharist alhanafi dari-abi hafsusshoghir muhammad alhanafi dari-ayahnya abi hafsh alkabir ahmad bin hafsh albukhori alhanafi dari-muhammad bin hasan al syaibani alhanafi dari-AL IMAM ABI HANIFAH dari-IKRIMAH dari-IBNU ABBAS dari-BAGINDA NABI MUHAMMAD SHALLAHU ALAIHI WASALLAM

Sanad Beliau Ke Imam Maliki

Sanad guru guru assayyid muhammad almali ke imam MALIK dari ayahnya syd alawy almaliky dari ayahnya syd abbas almaliky dari syekh muhammad abid mufty almalikiyah dari syd ahmad zaini dahlan dari syekh utsman bin hasan addamyati dari syekh muhammad almair alkabir dari syekh muhammad assaqqath dari syekh muhammad al zarqoni(syarih muwatta’) dari ayahnya syekh muhammad abdul baqi dari syekh muhammad ajhuri dari syekh muhammad bin ahmad al romly dari syekhul islam zakaria al anshori dari alhafid ahmad bin ali ibnu hajar al asqolani dari najmuddin muhammad bin ali bin aqil albalisi dari muhammad bin ali al mukaffi dari muhammad bin al dallashi dari abdil aziz bin abdul wahhab bin ismail dari ismail bin thohir dari muhammad bin waliid atturtusyi dari sulaiman bin kholaf al baji dari yunus bin abdullah bin mughits dari abi isa yahya bin yahya bin yahya bin yahya dari paman ayahnya ubaidillah bin yahya dari ayahnya yahya bin yahya al laitsi al andulusy dari IMAM DARUL HIJRAH AL IMAM MALIK BIN ANAS RAHMATULLAH ALAIHIM AJMA IN WA ANNA LLAHA YAGFIRU LAHUM WA YARHAMUHUM WA YU’LI DARAJAATIHIM FIL JANNATI WA YANFAUNA BI ASRORIHIM WA ULUMIHIM WA ANWARIHIM WA NAFAHATIHIM BISIRRI ASRORIL FATIHAH

Sanad Beliau Ke Imam Syafii

Sanad guru-guru sayyid muhammad almaliky ke imam syafie dari ayahnya syd alawy almaliky dari ayahnya syd abbas almaliky dari syd bakry bin muhammad satho pengarang “ianatut tolibin dari syd ahmad zaini dahlan dari syekh utsman bin hasan damyaty dari syekh muhammad bin ali al syinwani dari syekh muhammad munir al samanudy dari syekh muhammad bin muhammad al budairy dari syekh almala ibrahim dari syekh shofiyuddin ahmad bin muhammad almadani dari syehk assyams muhammad bin ahmad al romli dari syaikhul islam zakaria bin muhammad al anshori dari al hafid ahmad bin ali ibnu hajar al asqolani dari sholah bin abi umar dari al fakhr ibnul bukhori dari abi ja’far muhammad bin ahmad al shoydalani dari abi ali al hasan bin ahmad alhaddad wafat tahun 515 h dari alhafid abi nuaem ahmad bin abdullah al ashbahani wafat tahun 430 h dari abil abbas muhammad bin ya’qub al ashomm wafat tahun 346 h dari robi’ bin sulaiman al muradi wafat tahun 270 h dari IMAM A’DZOM ABI ABDILLAH MUHAMMAD BIN IDRIS ASSYAFI E wafat tahun 204 h RAHMATULLAH ALAIHIM AJMA IN WA ANNA LLAHA YAGFIRU LAHUM WA YARHAMUHUM WA YU’LI DARAJAATIHIM FIL JANNATI WA YANFAUNA BI ASRORIHIM WA ULUMIHIM WA ANWARIHIM WA NAFAHATIHIM BISIRRI ASRORIL FATIHAH

Sanad Beliau ke Imam Hambali

Sanad guru-guru sayyid muhammad almaliky ke imam AHMAD AL HANBALI dari -ayahnya syd alawi almaliky dan syekh hasan massyath keduanya dari -syekh umar hamdan dari -syd ahmad bin ismail AL BARZANJI dari -syd zaini dahlan dari -syd ustman bin hasan addamyathi dari -syekh muhammad al amir alkabir dari -al shoaidi dari -ibni uqoilah dari -syekh al hasan al ujaymi dari -syekh arif al qossyasyi dari -al syams muhammad bim ahmad al romli dari -syekhul islam zakaria al anshari dari -al hafid ahmad bin ali ibnu hajar al asqalani dari -sholah bin abi umar dari -al fakhr ibnul bakhori dari -abi ali hanbal bin abdillah ibnul farajulmukabbar dari -abi qasim hibbatullah bin muhammad bin abdul wahid ibnul hashin dari -abi ali al hasan bin ali al tamimy dari -abi bakar ahmad bin ja’far al qutoi’i dari -abdullah bin ahmad dari -ayahnya AL IMA AHMAD BIN HANBAL dari -IMAM SYAFI’I dari -NAFI’ dari -IBNU UMAR dari -BAGINDA NABI MUHAMMAD SHALLAHU ALAIHI WASALLAM

Sejarah Ringkas
As-Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas Al-Maliki Al-Hasani
(Rahmatullahi Alaih)
Oleh muridnya: Fakhruddin Owaisi Al-Madani
Terjemahan : Syed Abdul Kadir Aljoofre
Pendahuluan

As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki adalah salah seorang ulamak Islam yang terutama desawarsa ini tanpa ragu lagi, ulamak yang paling dihormati dan dicintai di kota suci Makkah.

Beliau merupakan keturunan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, penghulu Ahlil Bait, Imam Hadis di zaman kita, pemimpin keempat-empat mazhab, ketua rohani yang paling berkaliber, pendakwah ke jalan Allah, seorang yang tidak goyah dengan pegangannya di dunia ilmiah Islam turath. Menziarahi beliau merupakan suatu kemestian kepada para ulamak yang menziarahi Makkah.

Keluarga

Keturunan Sayyid merupakan keturunan mulia yang bersambung secara langsung dengan Junjungan kita Muhammad Sallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri. Beliau merupakan waris keluarga Al-Maliki Al-Hasani di Makkah yang masyhur yang merupakan keturunan Rasulullah Sallahu ‘Alaihi Wasallam, melalui cucu Baginda, Imam Al-Hasan bin Ali, Radhiyallahu ‘Anhum.

Keluarga Maliki merupakan salah satu keluarga yang paling dihormati di Makkah dan telah melahirkan alim ulamak besar di Makkah, yang telah mengajar di Makkah berkurun lama.

Lima orang dari keturunan Sayyid Muhammad, telah menjadi Imam Mazhab Maliki di Haram Makkah. Datuk beliau, Al-Sayyid Abbas Al-Maliki, merupakan Mufti dan Qadhi Makkah dan khatib di Masjidil Haram. Beliau memegang jawatan ini ketika pemerintahan Uthmaniah serta Hashimiah, dan seterusnya terus memegang jawatan tersebut setelah Kerajaan Saudi diasaskan. Raja Abdul Aziz bin Sa’ud sangat menghormati beliau. Riwayat lanjut beliau boleh dirujuk pada kitab Nur An-Nibras fi Asanid Al-Jadd As-Sayyid Abbas oleh cucunya As-Sayyid Muhammad Al-Maliki.

Bapa beliau pula, As-Sayyid Alawi Al-Maliki merupakan salah seorang ulamak Makkah terunggul di abad yang lalu. Beliau telah mengajar pelbagai ilmu Islam turath di Masjidil Haram selama hampir 40 tahun. Ratusan murid dari seluruh pelusuk dunia telah mengambil faedah daripada beliau melalui kuliah beliau di Masjidil Haram, dan ramai di kalangan mereka telah memegang jawatan penting agama di negara masing-masing.

Malah, Raja Faisal tidak akan membuat apa-apa keputusan berkaitan Makkah melainkan setelah meminta nasihat daripada As-Sayyid Alawi. Beliau telah meninggal dunia pada tahun 1971 dan upacara pengebumiannya merupakan yang terbesar di Makkah sejak seratus tahun. Dalam tempoh 3 hari daripada kematian beliau, Stesyen Radio Saudi tempatan hanya menyiarkan bacaan Al-Quran, sesuatu yang tidak pernah dilakukan melainkan hanya untuk beliau.

Maklumat lanjut tentang As-Sayyid Alawi boleh dirujuk kepada biografinya berjudul Safahat Musyriqah min Hayat Al-Imam As-Sayyid As-Syarif Alawi bin Abbas Al-Maliki oleh anaknya, yang juga merupakan adik kepada As-Sayyid Muhammad, As-Sayyid Abbas Al-Maliki. As-Sayyid Abbas juga seorang ulamak, tetapi lebih dikenali dengan suara merdunya dan pembaca Qasidah yang paling utama di Arab Saudi. Biografi ini mengandungi tulisan berkenaan As-Sayyid Alawi dari ulamak dari seluruh dunia Islam.

Keluarga Maliki juga telah melahirkan ramai lagi ulamak lain, tetapi penulis hanya menyebut bapa dan datuk kepada As-Sayyid Muhammad. Untuk maklumat lanjut, rujuk tulisan-tulisan berkaitan sejarah Makkah dan ulamaknya di abad-abad mutakhir.


Kelahiran dan Pendidikan Awal

As-Sayyid Muhammad Al-Hasani bin Alawi bin Abbas bin Abdul Aziz, dilahirkan pada tahun 1946, di kota suci Makkah, dalam keluarga Al-Maliki Al-Hasani yang terkenal, keluarga Sayyid yang melahirkan ulamak tradisi. Beliau amat beruntung kerana memiliki bapa seperti As-Sayyid Alawi, seorang ulamak paling berilmu di Makkah. Bapa beliau merupakan guru pertama dan utama beliau, mengajar beliau secara peribadi di rumah dan juga di Masjidil Haram, di mana beliau menghafal Al-Quran sejak kecil. Beliau belajar dengan bapa beliau dan diizinkan untuk mengajar setiap kitab yang diajarkan oleh bapa beliau kepada beliau.


Pendidikan Lanjut

Dengan arahan bapanya, beliau juga turut mempelajari dan mendalami pelbagai ilmu turath Islam: Aqidah, Tafsir, Hadith, Feqh, Usul, Mustalah, Nahw dan lain-lain, di tangan ulamak-ulamak besar lain di Makkah serta Madinah. Kesemua mereka telah memberikan ijazah penuh kepada beliau untuk mengajar ilmu-ilmu ini kepada orang lain.

Ketika berumur 15 tahun lagi, As-Sayyid Muhammad telah mengajar kitab-kitab Hadith dan Feqh di Masjidil Haram, kepada pelajar-pelajar lain, dengan arahan guru-gurunya. Setelah mempelajari ilmu turath di tanah kelahirannya Makkah, beliau dihantar oleh bapanya untuk menuntut di Universiti Al-Azhar As-Syarif. Beliau menerima ijazah PhD daripada Al-Azhar ketika berusia 25 tahun, menjadikan beliau warga Arab Saudi yang pertama dan termuda menerima ijazah PhD dari Al-Azhar. Tesis beliau berkenaan Hadith telah diiktiraf cemerlang dan menerima pujian yang tinggi dari alim ulamak unggul di Al-Azhar ketika itu, seperti Imam Abu Zahrah.


Perjalanan Mencari Ilmu

Perjalanan menuntut ilmu merupakan jalan kebanyakan ulamak. As-Sayid Muhammad turut tidak ketinggalan. Beliau bermusafir sejak usia muda untuk menuntut ilmu dari mereka yang memiliki ilmu. Beliau telah bermusafir dengan banyak ke Afrika Utara, Mesir, Syria, Turki, dan rantau Indo-Pak untuk belajar dari alim-ulamak yang hebat, bertemu para Wali Allah, menziarahi masjid-masjid dan maqam-maqam, serta mengumpul manuskrip-manuskrip dan kitab.

Di setiap tempat ini, beliau menemui para ulamak dan auliyak yang agung, dan mengambil faedah daripada mereka. Mereka juga turut tertarik dengan pelajar muda dari Makkah ini dan memberi perhatian istimewa untuk beliau. Kebanyakan mereka telah pun sangat menghormati bapa beliau yang alim, dan merupakan satu kebanggaan memiliki anak beliau sebagai murid.


Ijazah-ijazah

Sistem pengajian tradisi atau turath berasaskan kepada ijazah atau ‘keizinan untuk menyampaikan ilmu’. Bukan semua orang boleh mengajar. Hanya mereka yang memiliki ijazah yang diktiraf dari alim-ulamak yang terkenal sahaja yang boleh mengajar. Setiap cabang pengetahuan dan setiap kitab Hadith, Feqh, Tafsir dan lain-lain, mempunyai Sanad-sanad, atau rantaian riwayat yang bersambung sehingga kepada penyusun kitab tersebut sendiri melalui anak-anak muridnya dan seterusnya anak-anak murid mereka. Banyak sanad-sanad yang penting, seperti sanad Al-Qur’an, Hadith dan Tasawwuf, bersambung sehingga kepada Rasulullah Sallahu Alaihi Wasallam.

Sayyid Muhammad mendapat penghormatan dengan menjadi Shaykh dengan bilangan ijazah terbanyak dalam waktunya. Beliau juga memiliki rantaian sanad terpendek atau terdekat dengan datuknya, Nabi Muhammad Sallahu Alaihi Wasallam.

Di Tanah Arab, tanah kelahirannya, dan dalam permusafiran ilmunya, As-Sayyid Muhammad mendapat lebih dari 200 ijazah dari alim-ulamak teragung di zamannya, di setiap cabang ilmu Islam. Ijazah beliau sendiri, yang beliau berikan kepada murid-muridnya adalah antara yang paling berharga dan jarang di dunia, menghubungkan anak-anak muridnya dengan sejumlah besar para ulamak agung.

Para Masyaikh yang memberikan As-Sayyid Muhammad ijazah-ijazah mereka merupakan ulamak besar dari seluruh dunia Islam. Kita menyebutkan sebahagian mereka:

Dari Makkah:

1) Bapa beliau yang alim dan guru beliau yang pertama, As-Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki
2) Shaykh Muhammad Yahya Aman al-Makki
3) Shaykh al-Sayyid Muhammad al-Arabi al-Tabbani
4) Shaykh Hasan Sa‘id al-Yamani
5) Shaykh Hasan bin Muhammad al-Mashshat
6) Shaykh Muhammad Nur Sayf
7) Shaykh Muhammad Yasin al-Fadani
8) Al-Sayyid Muhammad Amin Kutbi
9) Al-Sayyid Ishaq bin Hashim ‘Azuz
10) Habib Hasan bin Muhammad Fad‘aq
11) Habib Abd-al-Qadir bin ‘Aydarus al-Bar
12) Shaykh Khalil Abd-al-Qadir Taybah
13) Shaykh Abd-Allah al-Lahji

Dari Madinah:

1) Shaykh Hasan al-Sha‘ir, Shaykh al-Qurra of Madinah
2) Shaykh Diya-al-Din Ahmad al-Qadiri
3) As-Sayyid Ahmad Yasin al-Khiyari
4) Shaykh Muhammad al-Mustafa al-Alawi al-Shinqiti
5) Shaykh Ibrahim al-Khatani al-Bukhari
6) Shaykh Abd-al-Ghafur al-Abbasi al-Naqshbandi ( NB. Dari isnad Shaykh Abd-al-Ghafur al-Abbasi al-Naqshbandi, Syaikh Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki memberikan ijazah Tarekat Naqsyabandiyah kepada satu-satunya Ulama' di Dunia ini yaitu Syaikh KH. LATHIFI BIN BAIDHOWI atau MUHAMMAD SHALEH BIN BAIDHOWI, Sukosari, Gondanglegi, Malang, Jawa Timur, Indonesia. Selain Ijazah / Isnad Tarekat Naqsyabandiyah tersebut, Syaikh KH. LATHIFI BIN BAIDHOWI juga mendapat ijazah-ijazah untuk mengajar semua kitab dalam semua cabang ilmu keagamaan. Dari Syaikh KH. LATHIFI BIN BAIDHOWI, Isnad / Ijazah Tarekat Naqsyabandiyah tersebut diberikan kepada dua kholifahnya yaitu KH. ZAHID BIN LATHIFI, Sukosari, Gondanglegi, Malang, Jawa Timur, dan KH. THAIFUR BIN ALI WAFA, Ambunten, Sumenep, Madura, Indonesia, sebagaimana yang tercantum dalam Silsilah Tarekat Naqsyabandiyah Mudzhariyah Indonesia ).

Dari Hadramawt dan Yaman:

1) Al-Habib Umar bin Ahmad bin Sumayt, Imam Besar Hadramawt
2) Shaykh As-Sayyid Muhammad Zabarah, Mufti Yaman
3) Shaykh As-Sayyid Ibrahim bin Aqeel al-Ba-Alawi, Mufti Ta‘iz
4) Al-Imam al-Sayyid Ali bin Abd-al-Rahman al-Habshi
5) Al-Habib Alawi ibn Abd-Allah bin Shihab
6) As-Sayyid Hasan bin Abd-al-Bari al-Ahdal
7) Shaykh Fadhl bin Muhammad Ba-Fadhal
8) Al-Habib Abd-Allah bin Alawi al-Attas
9) Al-Habib Muhammad bin Salim bin Hafeez
10) Al-Habib Ahmad Mashhur al-Haddad
11) Al-Habib Abd-al-Qadir al-Saqqaf

Dari Syria:

1) Shaykh Abu-al-Yasar ibn Abidin, Mufti Syria
2) Shaykh As-Sayyid al-Sharif Muhammad al-Makki al-Kattani, Mufti Maliki
3) Shaykh Muhammad As‘ad al-Abaji, Mufti Shafi‘i
4) Shaykh As-Sayyid Muhammad Salih al-Farfur
5) Shaykh Hasan Habannakah al-Maydani
6) Shaykh Abd-al-Aziz ‘Uyun al-Sud al-Himsi
7) Shaykh Muhammad Sa‘id al-Idlabi al-Rifa‘i

Dari Mesir:

1) Shaykh As-Sayyid Muhammad al-Hafiz al-Tijani, Imam Hadith di Mesir
2) Shaykh Hasanayn Muhammad Makhluf, Mufti Mesir
3) Shaykh Salih al-Ja‘fari, Imam Masjid Al-Azhar
4) Shaykh Amin Mahmud Khattab al-Subki
5) Shaykh Muhammad al-‘Aquri
6) Shaykh Hasan al-‘Adawi
7) Shaykh As-Sayyid Muhammad Abu-al-‘Uyun al-Khalwati
8) Shaykh Dr. Abd-al-Halim Mahmud, Syeihkul Azhar

Dari Afrika Utara (Maghribi, Algeria, Libya dan Tunisia):

1) Shaykh As-Sayyid As-Sharif Abd-al-Kabir al-Saqali al-Mahi
2) Shaykh As-Sayyid Abd-Allah bin Al-Siddiq Al-Ghimari, Imam Hadith
3) Shaykh As-Sayyid Abd-al-Aziz bin Al-Siddiq al-Ghimari
4) As-Sharif Idris al-Sanusi, Raja Libya
5) Shaykh Muhammad At-Tahir ibn ‘Ashur, Imam Zaytunah, Tunis
6) Shaykh al-Tayyib Al-Muhaji al-Jaza’iri
7) Shaykh Al-Faruqi Al-Rahhali Al-Marrakashi
8) Shaykh As-Sayyid As-Sharif Muhammad al-Muntasir al-Kattani

Dari Sudan:

1) Shaykh Yusuf Hamad An-Nil
2) Shaykh Muddassir Ibrahim
3) Shaykh Ibrahim Abu-an-Nur
4) Shaykh At-Tayyib Abu-Qinayah

Dari Rantau Indo-Pak:

1) Shaykh Abu-al-Wafa al-Afghani Al-Hanafi
2) Shaykh Abd-al-Mu‘id Khan Hyderabadi
3) Al-Imam Al’Arif Billah Mustafa Rida Khan al-Barelawi, Mufti India
4) Mufti Muhammad Shafi’ Al-Deobandi, Mufti Pakistan
5) Mawlana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi, Imam Hadith
6) Mawlana Zafar Ahmad Thanawi
7) Shaykh Al-Muhaddith Habib-al-Rahman Al-‘Azami
8) Sayyid Abu-al-Hasan Ali An-Nadawi

Senarai ini hanya merupakan ulamak masyhur yang Syaikh kita telah mendapat ijazah darinya, dan di sana terdapat ramai lagi yang tidak disebutkan. Pada As-sayyid Muhammad Alawi, seseorang akan mendapati nilai terbaik dari para Masyaikh ini dalam pelabagai latarbelakang dan pengkhususan.


Karier Mengajar

Kalimah karier sebenarnya mungkin tidak sesuai untuk digunakan untuk menggambarkan aktiviti mengajar As-Sayyid Muhammad, kerana kalimah ini amat hampir kaitannya dengan keuntungan material. Sementara beliau, seperti mana Masyaikh tradisi yang lain, juga seperti keturunannya sebelum beliau, mengajar hanya kerana Allah dan tidak mengharapkan keuntungan material langsung.

Malahan, beliau menempatkan sejumlah besar pelajar di rumahnya sendiri, menyediakan untuk mereka makan minum, penginapan, pakaian, kitab-kitab serta segala keperluan mereka. Sebagai balasan, mereka hanya diminta mengikuti peraturan dan etika penuntut ilmu agama yang suci. Pelajar-pelajar ini biasanya menetap bersama beliau bertahun-tahun lamanya, mempelajari pelbagai cabang ilmu Islam, dan seterusnya kembali ke negeri masing-masing. Ratusan dari para pelajar telah menuntut di kaki beliau dan telah menjadi pelopor pengetahuan Islam dan kerohanian di negara mereka, terutamanya di Indonesia, Malaysia, Mesir, Yaman dan Dubai.

Bagaimanapun apabila pulang dari Al-Azhar, beliau dilantik sebagai Profesor Pengajian Islam di Universiti Ummul Qura di Makkah, yang mana beliau telah mengajar sejak tahun 1970.

Pada tahun 1971, sebaik bapanya meninggal dunia, para ulamak Makkah meminta beliau untuk menggantikan tempat bapanya sebagai guru di Masjidil Haram. Beliau menerimanya, lantas menduduki kedudukan yang telah diduduki oleh keluarganya lebih dari seabad. Beliau juga kadang kala mengajar di Masjid Nabi di Madinah. Kuliah pengajian beliau merupakan kuliah yang paling ramai dihadiri di kedua-dua Tanah Haram.

Bagaimanapun pada awal tahun 80-an, beliau telah mengosongkan kedudukan mengajarnya di Universiti Ummul Qura juga kerusi warisannya di Masjidil Haram, memandangkan fatwa dari sebahgian ulamak fanatik fahaman Wahhabi, yang menganggap kewujudannya sebagai ancaman kepada ideologi dan kekuasaan mereka.

Sejak itu, beliau mengajar kitab-kitab agung Hadith, Fiqh, Tafsir dan Tasawwuf di rumah dan masjidnya di Jalan Al-Maliki di Daerah Rusayfah, Makkah. Kuliah-kuliah umumnya antara waktu Maghrib dan Isyak dihadiri tidak kurang daripada 500 orang setiap hari. Ramai pelajarnya daripada Universiti menghadiri pengajiannya di waktu malam. Sehingga malam sebelum beliau meninggal dunia, majlisnya dipenuhi penuntut.

Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki amat dihormati oleh Kerajaan Arab Saudi dan selalu diminta nasihat dari Raja sendiri dalam urusan-urusan yang penting. Beliau juga dilantik sebagai ketua juri dalam Musabaqah Qur’an antarabangsa di Makkah selama tiga tahun berturut-turut.


Tulisan Beliau

Sayyid Muhammad merupakan seorang penulis prolifik dan telah menghasilkan hampir seratus buah kitab. Beliau telah menulis dalam pelbagai topik agama, undang-undang, social serta sejarah, dan kebanyakan bukunya dianggap sebagai rujukan utama dan perintis kepada topik yang dibicarakan dan dicadangkan sebagai buku teks di Institusi-institusi Islam di seluruh dunia.

Kita sebutkan sebahagian hasilnya dalam pelbagai bidang:

Aqidah:

1) Mafahim Yajib an Tusahhah
2) Manhaj As-salaf fi Fahm An-Nusus
3) At-Tahzir min al-Mujazafah bit-Takfir
4) Huwa Allah
5) Qul Hazihi Sabeeli
6) Sharh ‘Aqidat al-‘Awam

Tafsir:

1) Zubdat al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an
2) Wa Huwa bi al-Ufuq al-‘A’la
3) Al-Qawa‘id al-Asasiyyah fi ‘Ulum al-Quran
4) Hawl Khasa’is al-Quran

Hadith:

1) Al-Manhal al-Latif fi Usul al-Hadith al-Sharif
2) Al-Qawa‘id al-Asasiyyah fi ‘Ilm Mustalah al-Hadith
3) Fadl al-Muwatta wa Inayat al-Ummah al-Islamiyyah bihi
4) Anwar al-Masalik fi al-Muqaranah bayn Riwayat al-Muwatta lil-Imam Malik

Sirah:

1) Muhammad (Sallallahu Alaihi Wasallam) al-Insan al-Kamil
2) Tarikh al-Hawadith wa al-Ahwal al-Nabawiyyah
3) ‘Urf al-Ta’rif bi al-Mawlid al-Sharif
4) Al-Anwar al-Bahiyyah fi Isra wa M’iraj Khayr al-Bariyyah
5) Al-Zakha’ir al-Muhammadiyyah
6) Zikriyat wa Munasabat
7) Al-Bushra fi Manaqib al-Sayyidah Khadijah al-Kubra

Usul:

1) Al-Qawa‘id al-Asasiyyah fi Usul al-Fiqh
2) Sharh Manzumat al-Waraqat fi Usul al-Fiqh
3) Mafhum at-Tatawwur wa altTajdid fi al-Shari‘ah al-Islamiyyah

Fiqh:

1) Al-Risalah al-Islamiyyah Kamaluha wa Khuluduha wa ‘Alamiyyatuha
2) Labbayk Allahumma Labbayk
3) Al-Ziyarah al-Nabawiyyah bayn as-Shar‘iyyah wa al-Bid‘iyyah
4) Shifa’ al-Fu’ad bi Ziyarat Khayr al-‘Ibad
5) Hawl al-Ihtifal bi Zikra al-Mawlid al-Nabawi al-Sharif
6) Al-Madh al-Nabawi bayn al-Ghuluww wa al-Insaf

Tasawwuf:

1) Shawariq al-Anwar min Ad‘iyat al-Sadah al-Akhyar
2) Abwab al-Faraj
3) Al-Mukhtar min Kalam al-Akhyar
4) Al-Husun al-Mani‘ah
5) Mukhtasar Shawariq al-Anwar

Lain-lain:

1) Fi Rihab al-Bayt al-Haram (Sejarah Makkah)
2) Al-Mustashriqun Bayn al-Insaf wa al-‘Asabiyyah (Kajian Berkaitan Orientalis)
3) Silatu Riyadhah Biddin (Hubungan Sukan dengan Agama)
4) Al-Qudwah al-Hasanah fi Manhaj al-Da‘wah ila Allah (Teknik Dawah)
5) Ma La ‘Aynun Ra’at (Butiran Syurga)
6) Nizam al-Usrah fi al-Islam (Peraturan Keluarga Islam)
7) Al-Muslimun Bayn al-Waqi‘ wa al-Tajribah (Muslimun, Antara Realiti dan Pengalaman)
8) Kashf al-Ghummah (Ganjaran Membantu Muslimin)
9) Ad-Dawah al-Islahiyyah (Dakwah Pembaharuan)
10) Fi Sabil al-Huda wa al-Rashad (Koleksi Ucapan)
11) Sharaf al-Ummah al-Islamiyyah (Kemulian Ummah Islamiyyah)
12) Usul at-Tarbiyah al-Nabawiyyah (Metodologi Pendidikan Nabawi)
13) Nur an-Nibras fi Asanid al-Jadd as-Sayyid Abbas (Kumpulan Ijazah Datuk beliau, As-Sayyid Abbas)
14) Al-‘Uqud al-Lu’luiyyah fi al-Asanid al-Alawiyyah (Kumpulan Ijazah Bapa beliau, As-Sayyid Alawi)
15) Al-Tali‘ al-Sa‘id al-Muntakhab min al-Musalsalat wa al-Asanid (Kumpulan Ijazah)
16) Al-‘Iqd al-Farid al-Mukhtasar min al-Athbah wa al-Asanid (Kumpulan Ijazah)

Senarai di atas merupakan antara kitab As-Sayyid Muhammad yang telah dihasilkan dan diterbitkan. Terdapat banyak lagi kitab yang tidak disebutkan dan juga yang belum dicetak.

Kita juga tidak menyebutkan banyak penghasilan turath yang telah dikaji, dan diterbitkan buat pertama kali, dengan nota kaki dan komentar dari As-Sayyid Muhammad. Secara keseluruhannya, sumbangan As-Sayyid Muhammad amat agung.

Banyak hasil kerja As-Sayyid Muhammad telah diterjemahkan ke pelbagai bahasa.


Aktiviti lain

As-Sayyid Muhammad merupakan seorang pembimbing kepada ajaran dan kerohanian Islam yang sebenar dan telah bermusafir ke serata Asia, Afrika, Eropah dan Amerika, menyeru manusia ke arah kalimah Allah dan Rasul terakhir-Nya Muhammad Sallahu Alaihi Wassalam.

Di Asia Tenggara khasnya, As-Sayyid Muhammad secara peribadi telah mengasaskan dan membiayai lebih 70 buah Sekolah Islam untuk melawan aktiviti dakyah Kristian. Sejumlah besar penganut Kristian dan Budha telah memeluk Islam di tangannya hanya setelah melihat Nur Muhammad yang bersinar di wajahnya.

Ke mana sahaja beliau pergi, para pemimpin, ulamak dan masyarakat di tempat tersebut akan menyambutnya dengan penuh meriah. Beliau seringkali memberi ceramah kepada ratusan ribu manusia.

Beliau amat disayangi dan dicintai oleh Muslimin di seluruh dunia, bukan sahaja kerana beliau keturunan Rasulullah, tetapi juga kerana ilmunya yang luas, hikmahnya, akhlak serta watak rohaninya. Beliau juga amat terkenal amat pemurah dengan ilmu, kekayaan dan masanya.


Pendekatan

As-Sayyid Muhammad mengikuti dan menyelusuri tradisi arus utama dan majoriti Islam, jalan Ahlu Sunnah Waljamaah, jalan toleransi dan sederhana, pengetahuan dan kerohanian, serta kesatuan dalam kepelbagaian.

Beliau percaya kepada prinsip berpegang dengan empat mazhab yang masyhur, tetapi tanpa fanatik. Beliau mengajar rasa hormat kepada ulamak dan Awliyak agung yang lepas.

Beliau menentang sikap sewenang-wenangnya mengatakan Muslim lain sebagai Kafir dan Musyrik, yang telah menjadi tanda dan sifat utama sebahagian fahaman hari ini.

Beliau amat menentang dan kritis terhadap mereka yang digelar reformis (Islah) abad ke-20 yang dengan mudah ingin menghapuskan Islam generasi terdahulu menggunakan nama Islam yang suci.

Beliau juga memahami bahawa mencela kesemua Ash’ari, atau kesemua Hanafi, Syafi’e dan Maliki, kesemua sufi, seperti mana yang dilakukan oleh sebahagian fahaman hari ini adalah sama dengan mencela keseluruhan Ummah Islam ribuan tahun yang lampau. Ia hanya merupakan sifat dan pendekatan musuh Islam, dan bukannya rakan.

Sayyid Muhammad juga amat mempercayai bahawa ulamak – ulamak Mazhab yang agung – mengikuti Sunni-Sufi – sejak beratus tahun yang lalu, adalah penghubung kita kepada Al-Quran dan Assunnah, dan bukanlah penghalang antara keduanya dengan kita, seperti yang dipercayai sesetengah pihak.

Kefahaman yang benar berkenaan Al-Quran dan Sunnah ialah kefahaman yang berasaskan tafsiran para ulamak agung Islam, dan bukan dengan sangkaan para ekstrimis zaman moden ini yang tidak berfikir dua kali sebelum mencela majoriti Muslim di seluruh dunia. Sayyid Muhammad juga berpendapat majoriti ummah ini adalah baik. Kumpulan-kumpulan minoriti yang fanatiklah yang perlu mengkaji semula fahaman ekstrim mereka.

Sayyid Muhammad merupakan pendukung sebenar Sufi yang berasaskan Syariah, Sufi para Awliya’ agung dan solehin ummah ini. Beliau sendiri merupakan mahaguru kerohanian di tingkat yang tertinggi, berhubungan dengan kebanyakan peraturan kerohanian Islam, melalui para Masyaikh Tariqah yang agung.

Beliau turut mempercayai bahawa membaca Zikir, samaada secara bersendirian atau berkumpulan, adalah bahagian penting dalam kerohanian seseorang. Semua pelajarnya dimestikan bertahajjud dan membaca wirid pagi dan petang.

Sayyid Muhammad juga beranggapan, ummat Islam perlu menggunakan segala hasil yang ada untuk meningkatkan taraf ummah mereka dari sudut kerohanian, masyarakat dan juga material, dan tidak membuang masa yang berharga dengan berbalah pada perkara-perkara kecil. Beliau percaya Muslim tidak seharusnya mencela satu sama lain dalam perkara yang telah diselisihkan oleh para ulamak. Mereka sebaliknya perlu berganding bahu bersama untuk memerangi apa yang telah disepekati sebagai kejahatan dan dosa.

Pandangan dan pendirian Sayyid Muhammad ini digambarkan dalam tulisannya yang terkenal, Mafahim Yajib An Tusahhah (Kefahaman Yang Perlu Diperbetulkan), sebuah buku yang mendapat penghargaan meluas di seluruh dunia Islam dan diiktiraf tinggi di lingkaran para ulamak.


Penutup

Tidak diragui lagi, kehadiran Sayyid Muhammad Alawi merupakan rahmat buat ummah ini. Beliau merupakan waris kepada kekasih kita Nabi Muhammad Sallahu Alaihi Wasallam dari sudut darah daging serta kerohanian. Masyarakat Makkah dan Madinah teramat mencintai beliau seperti mana dilihat pada solat jenazah beliau.


Siapa sahaja yang pernah menemui beliau jatuh cinta dengan beliau. Rumahnya di kota suci Makkah sentiasa terbuka sepanjang tahun untuk ulamak dan para penuntut yang menziarahi, ribuan orang yang menuju kepadanya. Beliau juga tidak kenal erti takut dalam berkata yang benar dan telah mengalami detik-detik kepayahan kerana kebenaran. Walaubagaimanapun pertolongan Allah kelihatan sentiasa bersama dengannya. RadhiyAllahu Anhu WaArdhaah. Ameen.

Maklumat lanjut kehidupan dan pencapaiannya boleh dirujuk biografinya yang hebat bertajuk, Al-Maliki ‘Alim Hijjaz, karangan penulis dan sejarahwan terkenal Makkah, Dr Zuhayr Kutbi.


Pemergiannya

Beliau telah meninggalkan kita pada hari Jumaat, 15 Ramadhan (bersesuaian dengan doanya untuk meninggal dunia pada bulan Ramadhan), dalam keadaan berpuasa di rumahnya di Makkah. Kematiannya amat mengejutkan.

Benar.. Ia adalah satu kehilangan yang besar.. Ucapan takziah diucapkan dari seluruh dunia Islam. Solat janazah beliau dilakukan di seluruh pelusuk dunia.

Beliau telah pergi pada bulan Ramadhan dan pada hari Jumaat.

Saya adalah antara yang menunaikan solat jenazah (pertama di rumah beliau diimamkan oleh adiknya As-Sayyid Abbas, dan seterusnya di Masjidil Haram dengan Imam Subayl)… Ratusan ribu manusia membanjiri upacara pengebumiannya. Semua orang menangis dan sangat bersedih… Ia merupakan satu situasi yang tidak dapat dilupakan… Allahu Akbar…

Betapa hebatnya beliau… betapa besarnya kehilangan ini… Betapa ramainya yang menyembahyangkannya… Saya tahu mata saya tidak pernah menyaksikan seorang spertinya… Seorang yang amat dicintai oleh masyarakat seperti beliau… seorang ulamak yang berkaliber dan berpengetahuan serta berhikmah…

Terdapat sekurang-kurangnya 500 orang tentera diperintah oleh kerajaan Arab Saudi di perkuburan Ma’ala untuk mengawal ribuan orang yang menangisinya. Kerabat diraja juga turut hadir. Para manusia menempikkan Kalimah dengan kuat sepanjang uapcara pengebumian beliau, memenuhi Makkah dari Masjidil Haram sehingga ke tanah perkuburan.

Beliau disemadikan di sebelah bapanya, berhampiran maqam nendanya Sayyidah Khadijah. Sebelum beliau meninggal dunia, beliau ada menghubungi seorang pelajar lamanya di Indonesia melalui telefon dan bertanyanya adakah dia akan datang ke Makkah pada bulan Ramadhan. Apabila dia menjawab tidak, Sayyid Muhammad bertanya pula, “tidakkah engkau mahu menghadiri penegebumianku?”

Tepat sekali, beliau pergi pada bulan Ramadhan di pagi Jumaat… apakah lagi bukti yang diperlukan menunjukkan penerimaan Allah?! Makkah menangisi pemergiannya… Seluruh dunia Islam menangisi kehilangannya. Moga Allah menganugerahkan beliau tempat yang tertinggi di Jannah, bersama-sama kekasihnya dan datuknya Rasulullah Sallahu Alaihi Wasallam. Ameen.


Selesai diterjemah pada :
1.20 Petang, 26 Ramadhan 1425H di Haiyyu Sabiek, Kaherah.

Wallahu A’lam. Wassollahu Ala Saiyidina Rasulillah WaAla Alihi Wasohbihi Waman Walah, Walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

IN Memoriam Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki

In Memoriam Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki Mei 23, 2006
Posted by p4noet in Manaqib.
trackback

Makkah dan dunia Islam menangis, jumat 15 Ramadhan. Setelah azan subuh dikumandangkan dan sholat subuh didirikan di Masjidil Haram- Makkah, tersiarlah berita bahwa Sayyid Mohammad bin Alwi Almaliki, wafat. Beliau meninggal sekitar pukul 6 pagi di salah satu rumah sakit di Makkah, setelah beberapa jam saja berjuang melawan penyakit yang datang secara mendadak. Berita itu membuat cukup kabut keluarga, murid-muridnya, dan masyarakat Makkah yang tengah menunggu kepulihan kembali kesehatan beliau. Tapi sebaliknya berita yang didengar adalah wafatnya beliau. Ini benar-benar yang membuat mereka menjadi kalang kabut.

Begitu mendengar berita duka dari mulut ke mulut, ribuan masyarakat pencinta beliau panik. Mereka kalang-kabut dan berbondong-bondong menyerbu rumah kediaman beliau untuk menyaksikan kebenaran wafatnya beliau yang secara mendadak. Karena mereka hampir tidak percaya dengan berita itu. Suasana pun tambah panik lagi pagi itu setelah jasad Almarhum dibawa dari rumah sakit ke rumah beliau.

Ribuan orang berduyun-duyun ke rumah beliau ingin menyaksikan jenazah Almarhum secara langsung. Kepanikan warga Makkah itu membuat macet lalu-lintas. Jalan menuju Hay al Rashifah, rumah kediaman beliau, dipadati kendaraan dan manusia. Itulah sekedar info yang saya dapatkan dari kawan-kawan saya di Makkah disaat kepulangan Sayyid Muhammad Almaliki ke rahmatullah pada hari Jumat lalu.

Beberapa jam sebelum kepulangan beliau ke rahmatullah, tidak sedikit masyarakat dan santri datang seperti biasa ke rumahnya di hay Rashifah Makkah untuk mendengarkan wejangan dan ceramah Ramadhan yang biasa di berikan setiap hari usai sholat tarawih. Mereka semua mendunggu ceramah dan nafahat ramadhaniyah khususnya ceramah tentang perang Badar yang dijanjikan beliau akan diutarakannya pada pertengahan bulan yang suci Ramadhan.

Akan tetapi Allah telah merencanakan kematian beliau di hari itu yang tidak bisa ditolak oleh siapapun. Pada saat itu Sayyid Mohammad bin Alwi al Maliki mendapatkan serangan jantung secara mendadak dan segera dibawa kerumah sakit. Hanya beberapa jam saja beliau tinggal di rumah sakit dan dengan kesedihan yang dalam diberitakan beliau telah menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Untuk mengenang jasa-jasa beliau yang begitu besar bagi umat Islam, saya ringkaskan dibawah ini sekelumit kisah beliau yang diketahui, adapun yang tidak diketahui lebih banyak dari yang diketahui.

Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki lahir di makkah tahun 1365H. Pendidikan pertamanya adalah Madrasah Al-Falah –Makkah, dimana ayah beliau Sayyid Alwi bin Abbas Almaliki sebagai guru agama di sekolah tersebut yang juga merangkap sebagai pengajar di halaqah di Haram Makki yang tempatnya sangat masyhur dekat Bab As-salam

Ayah beliau, Sayyid Alwi bin Abbas Almaliki (kelahiran Makkah th 1328H), seorang alim ulama terkenal dan ternama di kota Makkah. Disamping aktif dalam berdawah baik di Masjidil Haram atau di kota kota lainnya yang berdekatan dengan kota Makkah seperti Thoif, Jeddah dll, Sayyid Alwi Almaliki adalah seorang alim ulama yang pertama kali memberikan ceramah di radio Saudi setelah salat Jumat dengan judul “Hadist al-Jumah”. Begitu pula ayah beliau adalah seorang Qadhi yang selalu di panggil masyarakat Makkah jika ada perayaan pernikahan.

Selama menjalankan tugas da’wah, Sayyid Alwi bin Abbas Almaiki selalu membawa kedua putranya Muhammad dan Abbas. Mereka berdua selalu mendampinginya kemana saja ia pergi dan berceramah baik di Makkah atau di luar kota Makkah. Adapun yang meneruskan perjalanan dakwah setelah wafat beliau adalah Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki dan Sayyid Abbas selalu berurusan dengan kemaslahatan kehidupan ayahnya.

Sebagaimana adat para Sadah [1] dan Asyraf [2] ahli Makkah, Sayyid Alwi Almaliki selalu menggunakan pakaian yang berlainan dengan ulama yang berada di sekitarnya. Beliau selalu mengenakan jubbah, serban (imamah) dan burdah atau rida yang biasa digunakan dan dikenakan Asyraf Makkah.

Setelah wafat Sayyid Alwi Almaiki, anaknya Sayyid Muhammad tampil sebagai penerus ayahnya. Dan sebelumnya ia selalu mendapatkan sedikit kesulitan karena ia merasa belum siap untuk menjadi pengganti ayahnya. Maka langkah pertama yang diambil adalah ia melanjutkan studi dan ta’limnya terlebih dahulu. Beliau berangkat ke Kairo dan Universitas al-Azhar Assyarif merupakan pilihanya. Setelah meraih S1, S2 dan S3 dalam fak Hadith dan Ushuluddin beliau kembali ke Makkah untuk melanjutkan perjalanan yang telah di tempuh sang ayah. Disamping mengajar di Masjidi Haram di halaqah, beliau diangkat sebagai dosen di Universitas King Abdul Aziz- Jeddah dan Univesitas Ummul Qura Makkah bagian ilmu Hadith dan Usuluddin. Cukup lama beliau menjalankan tugasnya sebagai dosen di dua Universiatas tsb, sampai beliau memutuskan mengundurkan diri dan memilih mengajar di Masjidil Haram sambil menggarap untuk membuka majlis ta’lim dan pondok di rumah beliau.

Adapun pelajaran yang di berikan baik di masjid haram atau di rumah beliau tidak berpoin kepada ilmu tertentu seperti di Universitas. Akan tetapi semua pelajaran yang diberikannya bisa di terima semua masyarakat baik masyarakat awam atau terpelajar, semua bisa menerima dan semua bisa mencicipi apa yang diberikan Sayyid Maliki. Maka dari itu beliau selalu menitik-beratkan untuk membuat rumah yang lebih besar dan bisa menampung lebih dari 500 murid per hari yang biasa dilakukan selepas sholat Maghrib sampai Isya di rumahnya di Hay al Rashifah. Begitu pula setiap bulan Ramadan dan hari raya beliau selalu menerima semua tamu dan muridnya dengan tangan terbuka tanpa memilih golongan atau derajat. Semua di sisinya sama tamu-tamu dan murid murid, semua mendapat penghargaan yang sama dan semua mencicipi ilmu bersama-sama. Dari rumah beliau telah keluar ulama-ulama yang membawa panji Rasulallah ke suluruh pelosok permukaan bumi. Di mana negara saja kita dapatkan murid beliau, di India, Pakistan, Afrika, Eropa, Amerika, apa lagi di Asia yang merupakan sebagai orbit dahwah sayid Muhammad Almaliki, ribuan murid murid beliau yang bukan hanya menjadi kyai dan ulama akan tetapi tidak sedikit dari murid2 beliau yang masuk ke dalam pemerintahan.

Di samping pengajian dan taklim yang rutin di lakukan setiap hari pula beliau telah berusaha mendirikan pondok yang jumlah santrinya tidak sedikit, semua berdatangan dari seluruh penjuru dunia, belajar, makan, dan minum tanpa di pungut biaya sepeser pun bahkan beliau memberikan beasiswa kepada para santri sebagai uang saku. Setelah beberapa tahun belajar para santri dipulangkan ke negara-negara mereka untuk menyiarkan agama.

Sayid Muhammad Almaliki dikenal sebagai guru, pengajar dan pendidik yang tidak beraliran keras, tidak berlebih-lebihan, dan selalu menerima hiwar dengan hikmah dan mauidhah hasanah. Beliau ingin mengangkat derajat dan martabat Muslimin menjadi manusia yang berperilaku baik dalam muamalatnya kepada Allah dan kepada sesama, terhormat dalam perbuatan, tindakan serta pikiran dan perasaannya. Beliau adalah orang cerdas dan terpelajar, berani dan jujur serta adil dan cinta kasih terhadap sesama. Itulah ajaran utama Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki. Beliau selalu menerima dan menghargai pendapat orang dan menghormati orang yang tidak sealiran dengannya atau tidak searah dengan thariqahnya. Dalam kehidupannya beliau selalu bersabar dengan orang-orang yang tidak bersependapat baik dengan pemikirannya atau dengan alirianya. Semua yang berlawanan diterima dengan sabar dan usaha menjawab dengan hikmah dan menklirkan sesuatu masalah dengan kenyataan dan dalil-dalil yang jitu bukan dengan emosi dan pertikaian yang tidak bermutu dan berkesudahan. Beliau tahu persis bahwa kelemahan Islam terdapat pada pertikaian para ulamanya dan ini memang yang di inginkan musuh Islam. Sampai-sampai beliau menerima dengan rela digeser dari kedudukannya baik di Universitas dan ta’lim beliau di masjidil Haram. Semua ini beliau terima dengan kesabaran dan keikhlasan bahkan beliau selalu menghormati orang orang yang tidak bersependapat dan sealiran dengannya, semasih mereka memiliki pandangan khilaf yang bersumber dari al-Quran dan Sunah. Adapun ulama yang telah mendapat gemblengan dari Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki, mereka pintar-pintar dan terpelajar. Di samping menguasai bahasa Arab, mereka menguasai ilmu-ilmu agama yang cukup untuk dijadikan marja’ dan reference di negara-negara mereka.

Pada akhir hayatnya yang berkenaan dengan adanya kejadian teroris di Saudi Arabia, beliau mendapatkan undangan dari ketua umum Masjidil Haram Syeikh sholeh bin Abdurahman Alhushen untuk mengikuti “Hiwar Fikri” di Makkah yang diadakan pada tg 5 sd 9 Dhul Q’idah 1424 H dengan judul “Al-qhuluw wal I’tidal Ruya Manhajiyyah Syamilah”, di sana beliau mendapat kehormatan untuk mengeluarkan pendapatnya tentang thatarruf atau yang lebih poluler disebut ajaran yang beraliran fundamentalists atau extremist. Dan dari sana beliau telah meluncurkan sebuah buku yang sangat popular dikalangan masyarakat Saudi yang berjudul “Alqhuluw Dairah Fil Irhab Wa Ifsad Almujtama”. Dari situ, mulailah pandangan dan pemikiran beliau tentang da’wah selalu mendapat sambutan dan penghargaan masyarakat luas.

Pada tg 11/11/1424, beliau mendapat kesempatan untuk memberikan ceramah di hadapan wakil raja Amir Abdullah bin Abdul Aziz yang isinya beliau selalu menggaris-bawahi akan usaha menyatukan suara ulama dan menjalin persatuan dan kesatuan da’wah.

Di samping tugas beliau sebagai da’i, pengajar, pembibing, dosen, penceramah dan segala bentuk kegiatan yang bermangfaat bagi agama, beliau pula seorang pujangga besar dan penulis unggul. Tidak kurang dari 100 buku yang telah dikarangnya, semuanya beredar di seluruh dunia. Tidak sedikit dari kitab2 beliau yang beredar telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, Prancis, Urdu, Indonesia dll.

Beliau wafat meninggalkan 6 putra, Ahmad, Abdullah, Alwi, Ali, al- Hasan dan al-Husen dan beberapa putri-putri yang tidak bisa disebut satu persatu disini .

Beliau wafat hari jumat tg 15 ramadhan 1425 dan dimakamkan di pemakaman Al-Ma’la disamping kuburan istri Rasulallah Khadijah binti Khuailid ra. Dan yang menyaksikan penguburan beliau seluruh umat muslimin yang berada di Makkah pada saat itu termasuk para pejabat, ulama, para santri yang datang dari seluruh pelosok negeri, baik dari luar Makkah atau dari luar negri. Semuanya menyaksikan hari terakhir beliau sebelum disemayamkan, semua menyaksikan janazah beliau setelah disembahyangkan di Masjidil Haram ba’da sholat isya yang dihadiri oleh tidak kurang dari sejuta manusia. Begitu pula selama tiga hari tiga malam rumahnya terbuka bagi ribuan orang yang ingin mengucapkan belasungkawa dan melakukan `aza’. Dan di hari terakhir `Aza, wakil Raja Saudi, Amir Abdullah bin Abdul Aziz dan Amir Sultan datang ke rumah beliau untuk memberikan sambutan belasungkawa dan mengucapkan selamat tinggal kepada pemimpin agama yang tidak bisa dilupakan umat.

Selamat tinggal ayah yang berhati baik. Selamat tinggal sosok tubuh yang pernah menanamkan hikmah, ilmu, teladan dihati hati kami. Selamat tinggal pemimpin umat yang tak bisa kami lupakan dalam pendiriannya dan keikhlasannya. Selamat tinggal pahlawan yang jujur, ikhlas dalam amal dan perbuatanya. Selamat jalan… selamat jalan,.. kebaikan dan kemulyaan kamu telah meliputimu semasa hidupmu dan disaat wafatmu. Kamu telah hidupi hari hari mu didunia dengan mulia, dan sekarang kamu telah terima imbalannya disaat wafatmu pula dengan mulia. Jika sekarang kita telah berpisah untuk sementara, maka kami pasti akan menyusulmu Insya Allah dan kita pasti akan bertemu dan berkumpul kembali.

komentar (0) Link ke posting ini

Label: In Memoriam

In Memoriam Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki
Diposkan oleh Hamba Allah on Jumat, 16 Oktober 2009

In Memoriam Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki Mei 23, 2006
Posted by p4noet in Manaqib.
trackback

Makkah dan dunia Islam menangis, jumat 15 Ramadhan. Setelah azan subuh dikumandangkan dan sholat subuh didirikan di Masjidil Haram- Makkah, tersiarlah berita bahwa Sayyid Mohammad bin Alwi Almaliki, wafat. Beliau meninggal sekitar pukul 6 pagi di salah satu rumah sakit di Makkah, setelah beberapa jam saja berjuang melawan penyakit yang datang secara mendadak. Berita itu membuat cukup kabut keluarga, murid-muridnya, dan masyarakat Makkah yang tengah menunggu kepulihan kembali kesehatan beliau. Tapi sebaliknya berita yang didengar adalah wafatnya beliau. Ini benar-benar yang membuat mereka menjadi kalang kabut.

Begitu mendengar berita duka dari mulut ke mulut, ribuan masyarakat pencinta beliau panik. Mereka kalang-kabut dan berbondong-bondong menyerbu rumah kediaman beliau untuk menyaksikan kebenaran wafatnya beliau yang secara mendadak. Karena mereka hampir tidak percaya dengan berita itu. Suasana pun tambah panik lagi pagi itu setelah jasad Almarhum dibawa dari rumah sakit ke rumah beliau.

Ribuan orang berduyun-duyun ke rumah beliau ingin menyaksikan jenazah Almarhum secara langsung. Kepanikan warga Makkah itu membuat macet lalu-lintas. Jalan menuju Hay al Rashifah, rumah kediaman beliau, dipadati kendaraan dan manusia. Itulah sekedar info yang saya dapatkan dari kawan-kawan saya di Makkah disaat kepulangan Sayyid Muhammad Almaliki ke rahmatullah pada hari Jumat lalu.

Beberapa jam sebelum kepulangan beliau ke rahmatullah, tidak sedikit masyarakat dan santri datang seperti biasa ke rumahnya di hay Rashifah Makkah untuk mendengarkan wejangan dan ceramah Ramadhan yang biasa di berikan setiap hari usai sholat tarawih. Mereka semua mendunggu ceramah dan nafahat ramadhaniyah khususnya ceramah tentang perang Badar yang dijanjikan beliau akan diutarakannya pada pertengahan bulan yang suci Ramadhan.

Akan tetapi Allah telah merencanakan kematian beliau di hari itu yang tidak bisa ditolak oleh siapapun. Pada saat itu Sayyid Mohammad bin Alwi al Maliki mendapatkan serangan jantung secara mendadak dan segera dibawa kerumah sakit. Hanya beberapa jam saja beliau tinggal di rumah sakit dan dengan kesedihan yang dalam diberitakan beliau telah menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Untuk mengenang jasa-jasa beliau yang begitu besar bagi umat Islam, saya ringkaskan dibawah ini sekelumit kisah beliau yang diketahui, adapun yang tidak diketahui lebih banyak dari yang diketahui.

Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki lahir di makkah tahun 1365H. Pendidikan pertamanya adalah Madrasah Al-Falah –Makkah, dimana ayah beliau Sayyid Alwi bin Abbas Almaliki sebagai guru agama di sekolah tersebut yang juga merangkap sebagai pengajar di halaqah di Haram Makki yang tempatnya sangat masyhur dekat Bab As-salam

Ayah beliau, Sayyid Alwi bin Abbas Almaliki (kelahiran Makkah th 1328H), seorang alim ulama terkenal dan ternama di kota Makkah. Disamping aktif dalam berdawah baik di Masjidil Haram atau di kota kota lainnya yang berdekatan dengan kota Makkah seperti Thoif, Jeddah dll, Sayyid Alwi Almaliki adalah seorang alim ulama yang pertama kali memberikan ceramah di radio Saudi setelah salat Jumat dengan judul “Hadist al-Jumah”. Begitu pula ayah beliau adalah seorang Qadhi yang selalu di panggil masyarakat Makkah jika ada perayaan pernikahan.

Selama menjalankan tugas da’wah, Sayyid Alwi bin Abbas Almaiki selalu membawa kedua putranya Muhammad dan Abbas. Mereka berdua selalu mendampinginya kemana saja ia pergi dan berceramah baik di Makkah atau di luar kota Makkah. Adapun yang meneruskan perjalanan dakwah setelah wafat beliau adalah Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki dan Sayyid Abbas selalu berurusan dengan kemaslahatan kehidupan ayahnya.

Sebagaimana adat para Sadah [1] dan Asyraf [2] ahli Makkah, Sayyid Alwi Almaliki selalu menggunakan pakaian yang berlainan dengan ulama yang berada di sekitarnya. Beliau selalu mengenakan jubbah, serban (imamah) dan burdah atau rida yang biasa digunakan dan dikenakan Asyraf Makkah.

Setelah wafat Sayyid Alwi Almaiki, anaknya Sayyid Muhammad tampil sebagai penerus ayahnya. Dan sebelumnya ia selalu mendapatkan sedikit kesulitan karena ia merasa belum siap untuk menjadi pengganti ayahnya. Maka langkah pertama yang diambil adalah ia melanjutkan studi dan ta’limnya terlebih dahulu. Beliau berangkat ke Kairo dan Universitas al-Azhar Assyarif merupakan pilihanya. Setelah meraih S1, S2 dan S3 dalam fak Hadith dan Ushuluddin beliau kembali ke Makkah untuk melanjutkan perjalanan yang telah di tempuh sang ayah. Disamping mengajar di Masjidi Haram di halaqah, beliau diangkat sebagai dosen di Universitas King Abdul Aziz- Jeddah dan Univesitas Ummul Qura Makkah bagian ilmu Hadith dan Usuluddin. Cukup lama beliau menjalankan tugasnya sebagai dosen di dua Universiatas tsb, sampai beliau memutuskan mengundurkan diri dan memilih mengajar di Masjidil Haram sambil menggarap untuk membuka majlis ta’lim dan pondok di rumah beliau.

Adapun pelajaran yang di berikan baik di masjid haram atau di rumah beliau tidak berpoin kepada ilmu tertentu seperti di Universitas. Akan tetapi semua pelajaran yang diberikannya bisa di terima semua masyarakat baik masyarakat awam atau terpelajar, semua bisa menerima dan semua bisa mencicipi apa yang diberikan Sayyid Maliki. Maka dari itu beliau selalu menitik-beratkan untuk membuat rumah yang lebih besar dan bisa menampung lebih dari 500 murid per hari yang biasa dilakukan selepas sholat Maghrib sampai Isya di rumahnya di Hay al Rashifah. Begitu pula setiap bulan Ramadan dan hari raya beliau selalu menerima semua tamu dan muridnya dengan tangan terbuka tanpa memilih golongan atau derajat. Semua di sisinya sama tamu-tamu dan murid murid, semua mendapat penghargaan yang sama dan semua mencicipi ilmu bersama-sama. Dari rumah beliau telah keluar ulama-ulama yang membawa panji Rasulallah ke suluruh pelosok permukaan bumi. Di mana negara saja kita dapatkan murid beliau, di India, Pakistan, Afrika, Eropa, Amerika, apa lagi di Asia yang merupakan sebagai orbit dahwah sayid Muhammad Almaliki, ribuan murid murid beliau yang bukan hanya menjadi kyai dan ulama akan tetapi tidak sedikit dari murid2 beliau yang masuk ke dalam pemerintahan.

Di samping pengajian dan taklim yang rutin di lakukan setiap hari pula beliau telah berusaha mendirikan pondok yang jumlah santrinya tidak sedikit, semua berdatangan dari seluruh penjuru dunia, belajar, makan, dan minum tanpa di pungut biaya sepeser pun bahkan beliau memberikan beasiswa kepada para santri sebagai uang saku. Setelah beberapa tahun belajar para santri dipulangkan ke negara-negara mereka untuk menyiarkan agama.

Sayid Muhammad Almaliki dikenal sebagai guru, pengajar dan pendidik yang tidak beraliran keras, tidak berlebih-lebihan, dan selalu menerima hiwar dengan hikmah dan mauidhah hasanah. Beliau ingin mengangkat derajat dan martabat Muslimin menjadi manusia yang berperilaku baik dalam muamalatnya kepada Allah dan kepada sesama, terhormat dalam perbuatan, tindakan serta pikiran dan perasaannya. Beliau adalah orang cerdas dan terpelajar, berani dan jujur serta adil dan cinta kasih terhadap sesama. Itulah ajaran utama Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki. Beliau selalu menerima dan menghargai pendapat orang dan menghormati orang yang tidak sealiran dengannya atau tidak searah dengan thariqahnya. Dalam kehidupannya beliau selalu bersabar dengan orang-orang yang tidak bersependapat baik dengan pemikirannya atau dengan alirianya. Semua yang berlawanan diterima dengan sabar dan usaha menjawab dengan hikmah dan menklirkan sesuatu masalah dengan kenyataan dan dalil-dalil yang jitu bukan dengan emosi dan pertikaian yang tidak bermutu dan berkesudahan. Beliau tahu persis bahwa kelemahan Islam terdapat pada pertikaian para ulamanya dan ini memang yang di inginkan musuh Islam. Sampai-sampai beliau menerima dengan rela digeser dari kedudukannya baik di Universitas dan ta’lim beliau di masjidil Haram. Semua ini beliau terima dengan kesabaran dan keikhlasan bahkan beliau selalu menghormati orang orang yang tidak bersependapat dan sealiran dengannya, semasih mereka memiliki pandangan khilaf yang bersumber dari al-Quran dan Sunah. Adapun ulama yang telah mendapat gemblengan dari Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki, mereka pintar-pintar dan terpelajar. Di samping menguasai bahasa Arab, mereka menguasai ilmu-ilmu agama yang cukup untuk dijadikan marja’ dan reference di negara-negara mereka.

Pada akhir hayatnya yang berkenaan dengan adanya kejadian teroris di Saudi Arabia, beliau mendapatkan undangan dari ketua umum Masjidil Haram Syeikh sholeh bin Abdurahman Alhushen untuk mengikuti “Hiwar Fikri” di Makkah yang diadakan pada tg 5 sd 9 Dhul Q’idah 1424 H dengan judul “Al-qhuluw wal I’tidal Ruya Manhajiyyah Syamilah”, di sana beliau mendapat kehormatan untuk mengeluarkan pendapatnya tentang thatarruf atau yang lebih poluler disebut ajaran yang beraliran fundamentalists atau extremist. Dan dari sana beliau telah meluncurkan sebuah buku yang sangat popular dikalangan masyarakat Saudi yang berjudul “Alqhuluw Dairah Fil Irhab Wa Ifsad Almujtama”. Dari situ, mulailah pandangan dan pemikiran beliau tentang da’wah selalu mendapat sambutan dan penghargaan masyarakat luas.

Pada tg 11/11/1424, beliau mendapat kesempatan untuk memberikan ceramah di hadapan wakil raja Amir Abdullah bin Abdul Aziz yang isinya beliau selalu menggaris-bawahi akan usaha menyatukan suara ulama dan menjalin persatuan dan kesatuan da’wah.

Di samping tugas beliau sebagai da’i, pengajar, pembibing, dosen, penceramah dan segala bentuk kegiatan yang bermangfaat bagi agama, beliau pula seorang pujangga besar dan penulis unggul. Tidak kurang dari 100 buku yang telah dikarangnya, semuanya beredar di seluruh dunia. Tidak sedikit dari kitab2 beliau yang beredar telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, Prancis, Urdu, Indonesia dll.

Beliau wafat meninggalkan 6 putra, Ahmad, Abdullah, Alwi, Ali, al- Hasan dan al-Husen dan beberapa putri-putri yang tidak bisa disebut satu persatu disini .

Beliau wafat hari jumat tg 15 ramadhan 1425 dan dimakamkan di pemakaman Al-Ma’la disamping kuburan istri Rasulallah Khadijah binti Khuailid ra. Dan yang menyaksikan penguburan beliau seluruh umat muslimin yang berada di Makkah pada saat itu termasuk para pejabat, ulama, para santri yang datang dari seluruh pelosok negeri, baik dari luar Makkah atau dari luar negri. Semuanya menyaksikan hari terakhir beliau sebelum disemayamkan, semua menyaksikan janazah beliau setelah disembahyangkan di Masjidil Haram ba’da sholat isya yang dihadiri oleh tidak kurang dari sejuta manusia. Begitu pula selama tiga hari tiga malam rumahnya terbuka bagi ribuan orang yang ingin mengucapkan belasungkawa dan melakukan `aza’. Dan di hari terakhir `Aza, wakil Raja Saudi, Amir Abdullah bin Abdul Aziz dan Amir Sultan datang ke rumah beliau untuk memberikan sambutan belasungkawa dan mengucapkan selamat tinggal kepada pemimpin agama yang tidak bisa dilupakan umat.

Selamat tinggal ayah yang berhati baik. Selamat tinggal sosok tubuh yang pernah menanamkan hikmah, ilmu, teladan dihati hati kami. Selamat tinggal pemimpin umat yang tak bisa kami lupakan dalam pendiriannya dan keikhlasannya. Selamat tinggal pahlawan yang jujur, ikhlas dalam amal dan perbuatanya. Selamat jalan… selamat jalan,.. kebaikan dan kemulyaan kamu telah meliputimu semasa hidupmu dan disaat wafatmu. Kamu telah hidupi hari hari mu didunia dengan mulia, dan sekarang kamu telah terima imbalannya disaat wafatmu pula dengan mulia. Jika sekarang kita telah berpisah untuk sementara, maka kami pasti akan menyusulmu Insya Allah dan kita pasti akan bertemu dan berkumpul kembali.

 
google-site-verification: google8f4c7daa7e77eae0.html